Sabtu, 03 Desember 2011



Me and Friends









Rabu, 30 November 2011

Hidup XLangkah Lebih Maju with Internet yang makin ngeNet


Mengawali edisi kali ini, kayaknya enak banget kalau sambil ngebayangin gimana menderitanya burung waktu zaman kerajaan. Disuruh bolak-balik nganterin surat yang itu burung sendiri benar-benar belum bisa baca sama sekali tulisannya. Pasrah dengan keadaan yang disuruh bolak-balik ke sana kemari. Padahal jarak dari satu kerajaan ke kerajaan lain benar-benar melelahkan.
yaa..kalau kata doel soembang, kalau 'burung' bisa ngomong, pasti dia akan ngeluh habis-habisan. dan nggak itu aja yang dilakukan si burung, dia juga pasti bakalan protes nggak berhenti-berhenti. Bahkan kalaupun bisa demo, burung pasti udah melakukan demo besar-besaran untuk berhenti jadi tukang pos sukarelawan.ckckckck!!!

huffh!!menyedihkan nasib burung pada masa itu. dengan penuh kepatuhan atau kondisi keterpaksaan, maka burung rela untuk bolak-balik meski terik dan meski nggak juga bisa sedikitpun baca tulisan itu. #Nggak kebayang banget kalau kerajaannya itu jaaaauuuuhhh bangeeettt sampai harus nyebrang laut, pulau ataupun selat. *lebay

tapi..mau nggak mau, suka atau nggak suka, senang nggak senang, rela ATAUPUN sangat rela, tetap aja kondisi itulah yang paling menyenangkan pada masa itu untuk mengirim suatu berita. justru kondisi seperti itu yang juga paling menguntungkan. *bisa dibayangin kan seberapa besar jasanya si burung pada masa itu.

tapi, kayaknya sampai saat ini belum bisa ngebayangin juga kalau ternyata si 'burung pos' dapat tugas harus nganterin dokumen-dokumen penting kerajaan yang bisa jadi beberapa bundel dokumen itu untuk digunakan pada saat itu juga. oalaahhh...beban burung menjadi tambah berat. yakin nggak bakalan lagi bisa terbang dan nggak juga lagi burung mendapat julukan 'makhluk paling bahagia' yang bisa terbang kesana kemari.

STOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOP!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

nggak rela kalau saya harus nyuruh para pembaca untuk berterbangan terus-terusan dalam dunia penuh bayang-bayang, karna kalau lama-lama membayangkan 'burung pos' yang hidup zaman dahulu itu, maka beban kita akan berbanding lurus dengannya. #hadeeuuuhh..sesuatu banget

lebih baik untuk saat ini, kita melepaskan diri dan memerdekakan diri untuk dapat melihat realita yang ada. *tanpa harus bayang-bayang lagi sama burung-burung.

karna realita yang ada saat ini, bukan lagi si burung yang keliling-keliling cari alamat *(kasihan aja kayak ayu ting-ting yang lagi muter-muter cari alamat), tapi semua alamat bisa masuk ke kantong pribadi kita (baca:e-mail).

wah..wah..tunggu dulu..tunggu dulu *(gaya Radiya dika di standUpComedy) sebelum jauh-jauh masuk ke e-mail, ternyata perjuangan burung malang itu dilanjutkan oleh pak pos. begitu besar jasa pak pos. Sekarang, nggak usah lagi bayang-bayang, kita coba buka majalah atau koran zaman dulu, kita buka sedikit-sedikit memory masa lampau, kenangan-kenangan indah bersama pak pos yang rela nganterin surat dan foto-foto narsis kita di dalam amplop cokelat yang rapi. tapi, kalau hujan dan panas terik menyengat tubuh, ya terpaksa istirahat dulu, neduh dulu dan ngopi dulu. jadi, tetap aja nggak bisa dalam hitungan menit bisa langsung kita nikmati kiriman itu.

Nah!Bersyukurlah kita hidup dari masa ke masa yang penuh dengan inovasi, sampai akhirnya terdampar di satu masa yang bisa lihat kambing, kerbau, sapi dan kawan-kawannya dalam satu layar *bukan lagi satu kandang. Bahkan bisa langsung impor atau ekspor kandang burung ke negara di pulau yang kondisinya bikin miris kalau dikunjungi.*saking jauh dan terpelosok kondisi pulaunya

Bahkan, bukan cuma itu aja yang bisa dilakukan pada masa kita hidup sekarang ini, tapi doraemon pun telah ada di genggaman kita, bukan lagi sebuah khayalan orang-orang jepang yang kelihatannya 'hoppeless' karna mupenk banget menginginkan kondisi itu. Karna saat ini, kita mau pergi ke zaman berapa aja dan keliling dunia, cuma tinggal duduk atau sambil tiduran, lalu klik tombol-tombol yang ada di papan hitam, maka kita langsung sampai tanpa perlu kesandung atau naik turun kendaraan.

Tapi..tapi..semua itu nggak kejadian begitu aja, ada yang paling berjasa dalam semua keajaiban-keajaiban langkah kita,
YUP!!
Semuanya betul!
'internet to the fast way net'
kalau bisa disamakan dengan zaman Rasulullah, maka internet adalah kendaraan bouraknya Rasul pada masa itu. *canggiihhh...

tanpa pakai mupenk lagi sama si burung yang bisa terbang secepat kilat buat nganterin surat, maka kita sambil berbaring di tempat tidur, sudah bisa menyampaikan sebundel dokumen kerja yang bikin mumet lebih cepat dari kerdipan mata jin yang di minta untuk memindahkan kerajaan.

bahkan ayu ting-ting pun harusnya sudah XLangkah lebih maju, karna nggak perlu lagi teriak-teriak nyari alamat, tinggal buka Google Map atau minta bantuan GPS di internet yang koneksi dan bandwithnya saat ini gila-gilaan, maka langsung ketemu alamatnya. *plisss dehh..hari gini masih nyusahin diri sendiri

So, 'internet to the fast way net' buat kita XLangkah lebih maju. nggak perlu lagi menghayal punya sayap atau punya motor orange yang mirip punya pak pos buat membahagiakan orang lain buat kirim ucapan penuh cinta *cie ileehh..
atau sebucket bunga untuk suami kita menemani makan siangnya di kantor..
mulai sekarang, pokoknya dilarang ngerepotin diri sendiri, apalagi ngerepotin burung-burung, keliling dunia aja pakai kantong doraemonnya dunia nyata (baca:internet) maka kita akan menguasai dunia dari tempat duduk kita saat ini.



Jumat, 25 November 2011

aku ingn menikmati ujung hariku di sini.
di pojok ruangan indah ini..
di sisi yang tak ada orang lain yang mampu menemukanku disini,.

aku dalam hening,.
yang sedang riuh di benakkku membayangkan akan sgala hal yang mewarnai perjalanan hidupku hari ini..
inilah aku,
inilah rinduku,
inilah hasratku,

aku,.
bersamanya..

aku ingin berbaring di pundaknya..
ingin ada sesorang yang memukul dan menguatkan tubuh ini..
yang menopang penat di benak,
dan tersenyum riuh menghela keringat dahaga..

Minggu, 06 November 2011

ALASAN ILMIAH DI BALIK LARANGAN KHALWAT

Oleh Abdul Daim Al-Kahil



Perintah untuk tidak berkhalwat (berdua-duaan) antara seorang pria dan wanita yang bukan mahram selama ini dipatuhi seorang mukmin sebagai ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Tapi, jarang dari kita yang mengetahui alasan ilmiah di balik perintah itu.

Kenapa hal tersebut dilarang dan dianggap berbahaya oleh syariat Islam? Bagian tubuh kita yang mana yang ternyata berpengaruh terhadap kondisi khalwat itu?

Baru-baru ini, sebuah penelitian membuktikan bahaya berkhalwat tersebut.

Para peneliti di Universitas Valencia menegaskan bahwa seorang yang berkhalwat dengan wanita menjadi daya tarik yang akan menyebabkan kenaikan sekresi hormon kortisol. Kortisol adalah hormon yang bertanggung jawab terjadinya stres dalam tubuh. Meskipun subjek penelitian mencoba untuk melakukan penelitian atau hanya berpikir tentang wanita yang sendirian denganya hanya dalam sebuah simulasi penelitian. Namun hal tersebut tidak mampu mencegah tubuh dari sekresi hormon tersebut.

"Cukuplah anda duduk selama lima menit dengan seorang wanita. Anda akan memiliki proporsi tinggi dalam peningkatan hormon tersebut," inilah temuan studi ilmiah baru-baru ini yang dimuat pada Daily Telegraph!

Para ilmuwan mengatakan bahwa hormon kortisol sangat penting bagi tubuh dan berguna untuk kinerja tubuh tetapi dengan syarat mampu meningkatkan proporsi yang rendah, namun jika meningkat hormon dalam tubuh dan berulang terus proses tersebut, maka yang demikian dapat menyebabkan penyakit serius seperti penyakit jantung dan tekanan darah tinggi dan berakibat pada diabetes dan penyakit lainnya yang mungkin meningkatkan nafsu seksual.

Bentuk yang menyerupai alat proses hormon penelitian tersebut berkata bahwa stres yang tinggi hanya terjadi ketika seorang laki-laki berkhalwat dengan wanita asing (bukan mahram), dan stres tersebut akan terus meningkat pada saat wanitanyamemiliki daya tarik lebih besar! Tentu saja, ketika seorang pria bersama dengan wanita yang merupakan saudaranya sendiri atau saudara dekat atau ibunya sendiri tidak akan terjadi efek dari hormon kortisol. Seperti halnya ketika pria duduk dengan seorang pria aneh, hormon ini tidak naik. Hanya ketika sendirian dengan seorang pria dan seorang wanita yang aneh!

Para peneliti mengatakan bahwa pria ketika ada perempuan asing disisinya, dirinya dapat membayangkan bagaimana membangun hubungan dengannya (jika tidak emosional), dan dalam penelitian lain, para ilmuwan menekankan bahwa situasi ini (untuk melihat wanita dan berpikir tentang mereka) jika diulang, mereka memimpin dari waktu ke waktu untuk penyakit kronis dan masalah psikologis seperti depresi.

Nabi saw mengharaman khalwat

Kita semua tahu hadits yang terkenal yang mengatakan: "Tidaknya ada orang yang seorang laki-laki berkhlawat dengan wanita kecuali setan adalah yang ketiga, hadits ini menegaskan diharamkannya berkhalwat bagi seorang pria dengan wanita asing atau bukan mahramnyaI . karena itu Nabi saw melalui syariat ini menginginkan kita menghindari banyak penyakit sosial dan fisik.

Ketika seorang beriman mampu menghindari diri dari melihat wanita (yang bukan mahram) dan menghindari diri dari berkhalwat dengan mereka, maka ia mampu mencegah penyebaran amoralitas dan dengan demikian melindungi masyarakat dari penyakit epidemi dan masalah sosial, dan mencegah individu dari berbagai penyakit ...

Kami sampaikan kepada mereka yang tidak puas dengan agama kami yang hanif: Bukankah Islam sebagai agama layak dihormati dan diikuti? mnh/alkaheel


Selasa, 01 November 2011

TERUNTUKMU ANAKKU... (KELAK)

aku disini sedang meniti hariku,.
merajut indahnya hidupku yang tak semulus jalan tol,
aku sedang menempa diriku
menambah banyak ilmu dan wawasan
aku sedang mengarungi indahnya samudera kehidupan

bukan untuk siapa-siapa..
tapi untukmu kelak, anakku..
aku ingin menjadi perpustakaan utama untukmu,
menjadi ladang ilmu dan telaga yang airnya sangat jernih untukmu
aku hanya ingin menjadi sahabatmu bertanya tentang alam dan dunia seisinya
aku ingin membelah dunia bersamamu
bersama senyummu dan riuh candamu dipangkuanku

aku ingin kau menemukan segalanya di markas dakwah kita kelak
aku ingin kau menjadi perisai untukku kelak,
menjadi titipan Alloh yang paling bahagia..

sabar yaa sayang..
semoga Alloh anugerahi kau untukku kelak
dalam keadaan aku tak buta dengan ilmu,

sungguh..
tak ada investasi apapun yang dapat aku berikan untukmu kelak,
selain ilmu yang bermanfaat dan iman yang melekat erat dengan ketaqwaan pada Rabb-mu...

rasanya aku ingin menelan banyak buku dan ilmu yang ku temui,
aku ingin keliling dunia dan melihat apa yang ada di buku - buku,
bukan karena aku ingin berwisata semata untuk membahagiakan diri atau melipur lara,
tapi aku hanya ingin menjadi biro wisata untukmu,
biar aku yang menjelaskan kepadamu tentang indahnya alam dan dunia yang Alloh ciptakan..

Anakku,
aku ingin menjadi ibunda Khansa
aku ingin mempersembahkanmu untuk Rabb-ku hingga Ia Ridho
aku ingin menapaki jalan juang bersamamu
aku ingin membangun mimpi dalam indahnya dekapanmu..
dalam sebuah mimpi yang hanya aku, kau dan Rabb kita yang akan menggenggamnya..

aku ingin menyunting dunia bersamamu..
hingga Alloh antarkan kita menuju syurgaNya kelak
hingga Alloh tak punya 1 alasan apapun untuk memisahkan kita dari syurgaNya kelak..


maryanaindahlestari

Sabtu, 29 Oktober 2011

Assalammu'alaikum Warohmatullahi Wabarokatu,.

Dear calon suamiku..
apa kabarnya imanmu hari ini?
Sudahkah harimu ini diawali dengan syukur
karena dapat menatap kembali fananya hidup ini
sudahkah air wudhu
menyegarkan kembali ingatanmu
atas amanah yang saat ini tengah kau genggam

Wahai calon suamiku,.
taukah engkau betapa Alloh mencintaiku dengan dahsyat
disini aku ditempa untuk menjadi dewasa,
agar aku lebih bijak menyikapi sebuah kehidupan dan siap mendampingimu kelak,
meskipun kadang keluh dan putus asa menyergapi,
namun kini kurasakan diri ini lebih baik,

kadang aku bertanya-tanya,
mengapa Allah mengujiku tepat dihatiku.
bagian terapuh diriku.
namun kini aku tahu jawabannya

Alloh tahu dimana tempat yang paling tepat
agar aku senantiasa kembali mengingat-Nya.
kembali mencinta-Nya.
Ujian demi ujian InsyaAlloh membuatku menjadi lebih tangguh,
sehingga saat kelak kita bertemu,
kau bangga telah memiliki aku dihatimu..

Calon suamiku,
entah dimana dirimu sekarang
tapi aku yakin, Allohpun mencintamu sebagaimana Dia mencintaiku.
Aku yakin Dia kini telah melatihmu menjadi mujahid yang tangguh,
hingga aku bangga memilikimu kelak

apa yang kuharapkan darimu adalah keshalihan.
semoga sama halnya dengan dirimu
.
karena apabila kecantikan yang kau harapkan dariku,
hanya kesia-siaan yang akan kau dapati

aku masih haus akan ilmu,
tapi berbekal ilmu yang ada saat ini,
aku berharap dapat menjadi istri yang mendapat keridhaan Alloh dan dirimu,
Suamiku..

Sabtu, 15 Oktober 2011

PERAN BAHASA DAN SASTRA DALAM PEMBENTUKAN WATAK DAN KEPRIBADIAN YANG BERKUALITAS

Kepekaan 'rasa' dan 'emosi' sering dikaitkan erat dengan bahsa dan sastra, dan barangkali masalah ini perlu terus dipertahankan. Pengertian perasaan ini memang agak kabur dan bahkan mereka yang yakin akan adanya perasaan itu tetap tidak selalu dapat mengerti dengan jelas apa maksudnya. kita mengenal banyak sekali fenomena dalam kehidupan manusia yang yang erat hubungannya dengan proses berfikir rasional. akan tetapi banyak pula fenomena dalam kehidupan manusia yang berada di luar atau mengatasi jangkauan berfikir rasional itu dan menuntut semacam tanggapan emosional atau perasaan. perasaan memang sulit diterangkan dengan tepat apa sebenarnya. Meski perasaan itu bersumber pada naluri manusia, tetapi karena tradisi yang kompleks, perasaan manusia itu kemudian menunjuk pada hal-hal yang lebih khusus dalam setiap budaya.


Sehubungan dengan perasaan ini, barangkali dapat kita tegaskan di sini bahwa sastra dengan jelas dapat menghadirkan berbagai problem atau situasi yang merangsang tanggapan perasaan atau tanggapan emosional.situasi dan problem itu oleh sastrawanbdiungkapkan dengan cara-cara yangg memungkinkan kita tergerak untuk menjelajahi dan mengembangkan perasaan kita sesuai dengan kodrat kemanusiaan kita.


hendaknya tak perlu diragukan lagi bahwa bahasa dan sastra memang dapat digunakan sebagai sarana untuk menumbuhkan kesadaran pemahaman terhadap orang lain. Para pengarang modern telah banyak berusaha merangsang minat dan menumbuhkan rasa simpati kita terhadap masalah-masalah yang dihadapi orang-orang tertindas, gagal, kalah, dan putus asa.

seseorang yang berpendidikan tinggi dapat memiliki berbagai ketrampilan melewati seluruh rangkaian perkembangan pribadi dan menyerap berbagai pengetahuan, namun masih belum merasa puas atas dirinya dan belum merasa berguna penuh bagi sesamanya. 'Sesuatu yang lebih' yang biasanya dikenal sebagai ' kualitas kepribadian' perlu terus dikembangkan.

Bagaimanapun, pendidikan hanya dapat berusaha membina dan membentuk, tetapi tidak dapat menjamin secara mutlak bagaimana watak manusia yang dididiknya. Meski demikian, dalam nilai peran bahasa dan sastra dalam pendidikan ada dua tuntutan yang dapat diungka[pkan sehubungan dengan watak ini. Pertama, bahasa dan sastra hendaknya mampu membina perasaan yang lebih tajam. Bahasa dan sastra memiliki kemungkinan lebih banyak untuk mengantar kita mengenal seluruh rangkaian kemungkinan hidup manusia seperti misalnya: kebahagiaan, kebebasan, kesetiaan, kebanggaan diri sampai pada kelemahan, kekalahan, keputusasaan, kebencian, perceraian dan kematian. seseorang yang telah banyak mendalami berbagai karya bahasa dan sastra biasanya mempunyai perasaan yang lebih peka untuk menunjuk hal mana yang bernilai dan mana yang tak bernilai. Secara umum, lebih lanjut dia akan mampu menghadapi masalah-masalah hidupnya dengan pemahaman, wawasan, toleransi dan rasa simpati yang lebih mendalam. perlu digarisbawahi bahwa kedalaman itu merupakan satu kualitas yang dibutuhkan masyarakat berkembang dimanapun tanpa kecuali.

BAHASA DAN SASTRA DALAM MEWUJUDKAN BERKEMBANG BAIKNYA KARAKTER BANGSA YANG DINAMIS

Bahasa merupakan salah satu partikel fundamental yang memberikan kontribusi paling banyak. Bahasa Indonesia berfungsi sebagai bahasa penyatu, yang menjembatani agar kami saling mengerti dan memahami.

Bahasa dan pembangunan bangsa memperlihatkan kesalingterkaitan yang sangat erat, sebagaimana yang dikilatkan melalui ungkapan "bahasa menunjukkan bangsa". Seberapa jauh tingkat dan intensitas saling keterkaitan itu berbanding sejajar dengan besarnya sumbangan yang diberikan bahasa terhadap pembangunan bangsa itu sendiri. Kesalingterkaitan itu akan diwarnai oleh peran bahasa, terutama dalam pembinaan jati diri dan sistem nilai yang bercorak nasional. Dalam konteks Indonesia, hal itu akan dengan sendirinya tercermin melalui kekuatan atau daya rekat yang dimiliki bahasa Indonesia untuk mempersatukan berbagai kelompok masyarakat dengan latar belakang etnis, budaya, dan bahasa yang berbeda menjadi kesatuan masyarakat yang lebih besar yang disebut bangsa Indonesia.

begitu pula dengan sastra. Apa itu sastra? Suatu pertanyaan yang sederhana, tetapi sulit menjawabnya. Sastra, untuk sebagian orang, tetap merupakan suatu misteri. Untuk membuat rumusan satra secara singkat dan jelas sungguh tidak mudah. Tetapi jika kita ingin mempelajari sastra perlu memikirkan apakah sastra itu sebenarnya. Sebab, dengan mengetahui hakikat sastra, kita akan dapat meyakinkan diri kita sendiri maupun orang lain,.

Bahasa, baik lisan maupun tulisan, merupakan bahan pokok sastra. Jika boleh kita katakan demikian, kiranya akan lebih tepat bila dikemukakan juga bahwa sastra mengandung kumpulan dan sejumlah bentuk bahasa yang khusus, yang digunakan dalam berbagai pola yang sistematis untuk menyampaikan segala perasaan dan pikiran.

Untuk memhami karya sastra dengan lebih mendalam, akan sangat menolong apabila kita mau memahami tiga dorongan yang mendasari kehidupan manusia yang menjadi pusat perhatian kegiatan penulisan sastra sejak awal zaman hingga sekarang yaitu yang bersifat religius, yang bersifat sosial dan personal. Dahulu, dorongan religius ini nampak jelas pada bentuk-bentuk doa dan pemujaan pada dewa-dewa yang sering disertai upacara ritual. Doa dan pemujaan itu dimaksudkan agar berkenan dan mendapatkan rahmat serta pertolongan dari yang dipuja. Kemudian pada abad-abad berikut dan tentu saja sampai sekarang, dorongan religius itu diungkapkan dalam bentuk kebaktian keagamaan berdasarkan inspirasi dari ajaran-ajaran yang berkembang dari agama-agama besar, yakni: Budha, Hindu, Kristen dan islam serta beberapa yang lain. Bahkan di dunia modern dengan masyarakatnya yang cenderung sekuler, nilai- nilai religius masih tetap nampak dalam karya sastra. Dengan kategori yang bagaimanapun, karya-karya itu tetap menunjukkan persepsi masnusia sebagai ‘ciptaan’, keterlibatannya, dan sikap serta pandangannya terhadap ciptaan itu.


Dorongan sosial erat hubungannya dengan tingkah laku dan hubungan antar individu dalam masyarakat serta antar individu dengan masyarakatnya. Tingkah laku serta hubungan itu sangat hakiki bagi manusia sebagai makhluk ciptaan yang tertinggi tingkatannya. Zaman dahulu, dorongan sosial itu menimbulkan berbagai karya berupa fable-fabel dan dongeng dongeng yang berisi ajaran moral. Bahkan sampai sekarang, dorongan sosial itu masih terus menimbulkan karya-karya yang memuat nilai-nilai etis dan problema-problema manusia modern.


Dorongan personal yang mengarah ke penjelajahan pribadi manusia dapat dilacak kembali lewat cerita-cerita kepahlawanan. Para leluhur kita mampu mengatur masyarakatnya, mendirikan lembaga-lembaga, memperjuangkan kemerdekaan, dan mengusir penindasan. Dengan proses perkembangan yang panjang cerita-cerita itu kemudian dituangkan ke dalam biografi dan otobiografi modern; novel-novel, drama-drama dan puisi-puisi yang mengemukakan tokoh baik tokoh jahat, dan orang kebanyakan baik pria maupun wanita.


Dapat ditunjukkan bahwa, sastra itu mempunyai relevansi dengan masalah-masalah dunia nyata, maka pengajaran sastra harus kita pandang sebagai sesuatu yang penting yang patut menduduki tempat yang selayaknya. Jika pengajarang sastra dilakukan dengan cara yang tepat, maka pengajaran sastra dapat juga memberikan sumbangan yang besar untuk memecahkan masalah-masalah nyata yang cukup sulit utnuk dipecahkan di dalam masyarakat.


Kita sering berusaha memikirkan tentang berbagai kebutuhan yang dapat dipenuhi dengan pendidikan di negara-negara berkembang. Topik topik semacam itu juga telah banyak ditulis dan dan dibicarakan oleh para ahli. Dari berbagai pendapat yang mereka ungkapkan, akhirnya dapat kita simpulkan dengan mudah bahwa masyarakat membutuhkan kesejahteraan dan kemajuan yang harus bertolak dari dua pengembangan yang khas, yakni-individu dan sosial. Masyarakat hanya dapat mencapai kesejahteraan dan kemajuan jika para anggotanya memiliki keterampilan, pengetahuan, dan kualitas-kualitas kepribadian yang diperlukan untuk mengatasi problema-problema dunia modern dewasa ini. Sedangkan individu-individu itu baru memanfaatkan sepenuhnya kualitas-kualitas yang dimiliki apabila masyarakat dimana dia tinggal dan bekerja mencerminkan adanya keharmonisan, efisiensi, dan fleksibelitas.

Jumat, 14 Oktober 2011

PERAN BAHASA DAN SATRA DALAM PENDIDIKAN DAN PEMBENTUKAN KARAKTER KEPRIBADIAN GENERASI MUDA

seni sastra merupakan salah satu jenis kesenian yang paling marjinal/pinggiran pada lingkup perhatian hidup generasi muda Indonesia. dibandingkan dengan seni rupa, tari, musik, teater atau film, seni sastra yang paling kurang diperhatikan, dan semakin lama tampaknya semakin kurang diperhatikan, (bahkan) tidak saja oleh generasi muda, tetapi juga lebih menyeluruh dari itu.

seni sastra relatif tidak tercantum dalam daftar prioritas kebutuhan masyarakat. shampo, kuteks kuku, busi motor, atau obat penyemprot nyamuk jelas lebih dianggap penting dibandingkan karya sastra.

seni sastra terkategorikan sebagai sesuatu yang boleh tidak ada. sementara itu celana atau jam tangan tergolong harus ada. Bahkan, ada situasi dimana lokalisasi wanita tunasusila memperoleh kemerdekaan penuh untuk beroperasi. Sementara itu karya sastra sangat diragukan, baik secara politis maupun kultural, bahwa ia sebaiknya ada.

sebab musabab keterpinggiran sastra dalam kebudayaan masyarakat masa kini, antara lain : nilai-nilai yang dikembangkan oleh kultur pembangunan kita relatif tidak mengakomodasikan atau kurang menyediakan peluang-peluang bagi terapresiasikannya seni bahasa dan sastra oleh warga masyarakat umunya dan generasi muda khususnya.

pada sisi mana pun dari bangunan kebudayaan masyarakat yang sedang kita kerjakan seolah - olah tidak ada itikad untuk menumbuhkan tradisi apresiasi sastra. Ada sih ada, tetapi tidak begitu serius, dan pengerjaannya kurang sungguh-sungguh.

sebagaimana bidang dan kedisiplinan lain dalam kebudayaan masyarakat, seni sastra memiliki kemungkinan kontribusinya sendiri. Tradisi ilmu menanamkan kepada manusia disiplin untuk mengenali, memilih, meyakini, dan memelihara yang benar sebagai benar dan yang salah sebagai salah. Tradisi moral/etika/religi menumbuhkan pengetahuan, penghayatan, dan pemesraan terhadap nilai kebaikan.Adapun tradisi estetika, dimana sastra merupakan salah satu pemeran, sarana atau pemandunya menanamkan gagasan, taste, dan pendalaman tentang segala sesuatu yang indah, lembut dan mesra ke dalam kejiwaan manusia dan masyarakat.

estetika dan dengan demikian juga esensi dunia sastra seyogyianya merupakan salah satu acuan dan tolok ukur bagi segala dan setiap aktivitas manusia dan masyarakat.

seni sastra khususnya dan kesenian pada umumnya merupakan salah satu komponen peradaban umat manusia yang memiliki hak dan relevansi untuk dikerjasamakan dengan disiplin-disiplin hidup yang lain demi bangunnya suatu kebudayaan bangsa yang berkualitas dan manusiawi. Bahasa dan satra yang baik membiasakan orang yang mempergaulinya untuk memelihara kelembutan hati, kepekaan perasaan, ketajaman intuisi, kedalaman jiwa, kearifan sikap sosial, dan keluasan pandangan hidup. Sastra adalah salah satu jalan spiritual.

Selasa, 23 Agustus 2011

PASCA KKN' 2011

Kuliah Kerja Nyata kampus UIN Syarif Hidayatullah Jakarta tahun 2011, kini telah berakhir seluruhnya. Mahasiswa yang merantau ke berbagai dusun di Indonesia selama sebulan penuh, kini telah kembali pada habitatnya masing-masing. Namun kepulangan mereka ke kampung halamannya masing-masing, tentunya tidaklah kembali dengan tangan hampa. mereka kembali dengan membawa segudang oleh-oleh yang mahal harganya, yaitu Pengalaman baru - berMasyarakat.



sebuah oleh-oleh yang tak mampu dinikmati semua orang rasa manisnya, asam atau bahkan pahitnya. hawa dan cuacanya ketika menikmati dagingnya, belum tentu bisa serenyah seperti mereka yang telah langsung turun ke medan kkn.


segudang cerita dalam suka dan duka tak hayal larut dalam sebuah kenangan dan momentum besar yang tercipta. kkn bukanlah hanya sekedar kegiatan mengisi waktu liburan kuliah, ataukah hanya sekedar pemenuhan nilai sks sesuai dengan yang didinginkan kampus, namun kkn memiliki sarat makna yang lebih jauh daripada hanya sekedar hal demikian.


kkn merupakan lembaga Pemberdayaan ummat dalam upaya menciptakan manusia unggul dan berkompetensi tinggi dalam membangun peradaban ummat yang memiliki integritas dan intelektualitas tinggi.


dan mahasiswapun yang terjun langsung pada medan kkn, seharunya menjadi sebuah media pembelajaran baru yang sungguh mampu menjadi tantangan globalisasi dalam pemenuhan kebutuhan ruhiyah akan pertanyaan tantangan global yang semakin merajai dunia, khusunya persaingan ekonomi dan teknologi yang kian pesat mendominasi maraknya pertumbuhan di Indonesia. sehingga yang mampu menjawabnya dengan lantang, bukan lagi mahasiswa yang masih duduk diam di bangku kuliah, atau hanya sekedar menjadi kupu-kupu (baca:kuliah-pulang) di kampus, namun justru seharusnya mahasiswa-mahasiswa veteran KKN lah yang memiliki inovasi yang kreatif dan tangguh sebagai sarana dan prasarana kebangkitan ummat.


karena dakwah yang sesungguhnya adalah di SINI. di kala bercampur dengan masyarakat dari berbagai lapisan dan golongan. disini, ketika diri sudah lepas dari pakaian keseharian dan menjadi satu dengan kondisi masyarakat di sekitar lingkungan kita. telah membudaya dengan hal yang seharusnya dapat dibudayakan untuk mencapai masyarakat yang adil dan sejahtera. ya..di SINI dan bersama kita menjadi INSAN INTELEKTUAL.

MENGAJAR MATEMATIKA DENGAN ANIMASI

Salah satu hal yang dapat Anda lakukan agar anak senang belajar Matematika adalah dengan mengubah mindset anak bahwa Matematika itu menarik, menyenangkan dan menantang. Melihat animasi dan bermain game di komputer/internet yang berkaitan dengan Matematika patut Anda coba. Tentu saja pendampingan tetap diperlukan.

Di internet sudah tersedia banyak media yang dapat kita manfaatkan. Game, animasi dapat kita cari dengan mudah. Beberapa sudah ada yang dapat di download terlebih dahulu, dan lainnya memaksa kita harus terhubung dengan internet. Berikut ini salah satu alamat web yang berisi game/permainan, animasi yang berkaitan dengan Matematika dan Ilmu pengetahuan.

Sehingga metoda jyang lebih variatif dan inovatif, mampu mengubah paradigma anak-anak yang sebelumnya merasa khawatir dan takut untuk bercengkrama ata bersenda gurau dengan matematika, kini akan menjadi sahabat bagi si kecil dalam menemani hari-harinya. menjadi sesuatu yang dicari, atau bahkan dibutuhkan untuk memenuhi nutrisinya akan konsep hitungan seru serta permainan logika yang menantang bagi anak-anak.

APA BEDANYA OTAK KANAN DAN OTAK KIRI?

INILAH.COM, Jakarta – Anda pasti sering mendengar otak manusia terbagi jadi dua bagian, otak kanan dan kiri. Namun, tahukah Anda apa perbedaan antara kedua bagian otak ini?

Banyak orang menggambarkan otak kiri berhubungan dengan kemampuan matematika dan otak kanan berhubungan dengan kreativitas. Kedua bagian otak ini memiliki tugas-tugas yang sangat berbeda. Untuk memastikan, Roger Sperry meneliti otak lebih lanjut.

Kedua bagian otak bekerja secara terpisah. Kedua bagian otak ini mengkomunikasi informasi melaluicorpus callosum tebal yang menghubungkan mereka. Otak kanan mengontrol otot di sisi kiri tubuh dan otak kiri mengontrol otot di sisi kanan tubuh.

Ketika Anda mengedipkan mata kanan, otak kiri Anda sedang bekerja. Karena criss-cross wiring, kerusakan di salah satu sisi otak mempengaruhi sisi tubuh yang berlawanan.

Umumnya, otak kiri dominan dalam bahasa guna memroses apa yang Anda dengar dan menangani banyak tugas berbicara. Selain itu, bagian ini juga bertugas melogika dan komputasi matematika pasti. Jika Anda ingin mengingat, otak kiri akan mencarinya.

Otak kanan bertugas di kemampuan spasial guna mengenali wajah dan musik. Dalam matematika, otak kanan hanya mengestimasi dan membandingkan saja. Otak kanan membantu Anda memahami gambar visual. Dalam bahasa, bagian ini mengintepretasikan konteks dan nada seseorang.

Namun sebenarnya, perbedaan otak kanan dan kiri jauh lebih kompleks dari kiri lawan kanan. Otak dengan hati-hati menyeimbangkan dan menugaskan fungsi tertentu masing-masing bagian otak. Kebanyakan orang dominan tangan kanan, hal ini diatur otak kiri.

"Asimetri otak sangat penting agar fungsi otak berjalan benar," kata profesor University College London Stephen Wilson. Hal ini, lanjutnya, memungkinkan dua sisi otak dikhususkan, meningkatkan kapasitas pemrosesan dan menghindari situasi konflik kedua sisi otak saling mengambil alih tugas.

Kamis, 11 Agustus 2011

SEPOTONG EPISODE KKS CERDAS'2011

menepi waktu yang sudah hampir diujung perjalanan kuliah kerja nyata kelompok cerdas 2011, ternyata justru bukanlah menyurutkan sebuah kenangan, namun menjadi sebuah momentum yang luar biasa untuk meraih ukhuwah yang terindah.

sebuah inspirasi kehidupan dari banyak kepala yang menyatu, ternyata bukanlah perkara yang dipandang mudah, tapi juga bukan sebuah hal yang begitu sulit untuk dapat dipahami.

begitu juga dengan sebuah hal yang bernama karakteristik,
karakteristik seseorang bukanlah ukuran utama untuk menentukan sebuah penilaian pada diri orang lain, dan juga dengan hal yang disebut sebagai tekanan.

tekanan pada masyarakat, membuktikan bahwa sesungguhnya, masyarakat dan kehidupan rutin yang berulang menjadi sebuah tonggak utama realita dakwah yang sesungguh-sungguhnya. ketika tekanan yang hadir sangat lekat di dalam diri, maka konflik sosial dan diri menjadi sebuah episode tersendiri dalam mengarungi bahtera Kuliah Kerja Nyata.

dan sekali lagi, sepotong episode itu terlukis jelas dalam menapaki perjalanan yang terkadang jauh dan melelahkan seluruh komponen tubuh, dan membuat kepenatan terkadang lekat sekali dengan diri yang pilu dan tak terkendali. terkadang juga, emosi sudah tercampur dengan sebuah pemikiran idealis yang semakin kencang bergulat dengan emosi atau bahkan rasionalitas yang belum dapat diterima dan dipertanggung jawabkan pada masyarakat luas.

segalanya itu, terlihat pada puncak sebuah tekanan, emosi, idealisasi dan sebuah pemikiran yang kritis dari karakteristik yang bersebrangan. dari sebuah pencapaian moralitas dan pemahaman akademisi masing-masing kepala yang beraneka ragam. yaitu pada puncak sebuah program unggulan. yaitu Tabligh Akbar se-Kecamatan Cibadak, Sukabumi.

Dimana sebuah acara yang menguras banyak sekali idelis dan pemikiran serta kekuatan ruh sangat dipertaruhkan. jelas sekali terlihat, bahwa disana, bukanlah sekedar fisik yang terasa begitu melelahkan dan meruntuhkan sebuah semangat juang Kuliah Kerja Nyata, namun hampir merenggut sebuah keunggulan kompetitif yang tak terasa aplikatif.

bukan hanya itu,
namun sepotong episode-pun tergores dengan pertimbangan dan pengaruh kualitas akal, yang terkadangpun juga begitu mempengaruhi dan menjadi sebuah integrasi kuat antara kualitas akademisi yang berbeda. bahkan moralitas ummat pun terlihat dari segala pencakaran etika dan kebudayaan masyarakat besar Bangsa Indonesia pada umumnya.

disinilah semi politik, yang terlihat sempit, namun sarat akan makna yang luas, bahkan menjadi sebuah titik ruang yang tak terbatas bila dipandang hanya dalam sebatas fatamorgana.

namun sekali lagi, sesungguhnya semua itu tidak dan bukanlah menjadi sebuah masalah yang mengkhawatirkan...
itu semua adalah sepotong episode yang sedang kami persembahkan untuk Alloh dan menjadi bekal terbaik kami menuju jannah-Nya.

tidak sampai disana titik ukur perjuangan ruh yang tersentuh melelehkan,
namun ada lagi sebuah tarbiyah yang begitu memukau dan mengesankan di bawah rembulan yang menyinari ketika malam itu,

ditengah riuh gemuruhnya menaruh suka yang penuh riuh canda dan tawa di hari milad akhina Gia Muhammad dan Deni Saputra, penuh harapan suka dan jauhnya dari cerita duka disaat renyahnya kebersamaan itu, ternyata ada sebuah asap yang mengebul sangat tebal dari jarak yang tidak jauh dari lokasi kami tinggal selama ini,

langsung saja tanpa banyak berfikir,
semua riuh tawa dan renyahnya gemuruh bising semarak milad menjadi henti dan berlari ke arah asap dan api yang mengebul sangat kencang.
ternyata kebakaran!
ya, satu rumah itu sudah habis ditelan si jago merah yang terus merambat tanpa berani berkompromi.
lucunya negeri ini, masih saja ada laki-laki yang hanya berdiri di samping kobaran api dengan penuh seksama memandangi api yang menari-nari. tapi seru dan bangganya, ketika menemui teman-teman ikhwan Cerdas yang sudah sibuk mengambil air dari dekat sana dan bahu-membahu menyirami api yang masih merajalela.

ya..
meski tidak berlangsung sekejap untuk mematikan kobaran api, namun cukup membutuhkan waktu dan kontribusi yang cukup banyak untuk menyelesaikan satu perkara malam itu.

namun,
setelah itu..
episode dilanjutkan dengan berkumpul bersama di rumah untuk menikmati potongan kue dari akhina yang sedang milad.

Alloh ya Kaarim,.
semoga Engkau menghimpun indahnya ukhuwah yang terserak,.
menyatukan dan mengikat erat hati kami,
menjadi sebuah wujud pemngabdian masyarakat yang bernilai,
bukan saja dalam memory kami, namun dalam sebuah perjalanan kehidupan yang mampu menjadi bekal terindah saat berjumpa dengan-Mu..

Semangat KKS CERDAS UIN 2011,.
inilah langkah ukhuwah kita yang baru saja akan dimulai..
semoga kebarokahan dan keRidhoan Alloh anugerahi kepada kita semua...


Kamis, 11 Agustus 2011
Batununggal, Cibadak-Sukabumi

Minggu, 31 Juli 2011

Menyegarkan Pemahaman Islam dan Politik

(Tanggapan Opini M Fajar Pramono dan Fathurrahman Yahya)

Saud El HujjajKetua Harian di Indonesian Islamic Business Forum (IIBF),

Political Analyst di Head Line Communication Indonesia

Perdebatan antara Muh Fajar Pramono (Republika, 29 Maret 2011) dan Fathurrahman Yahya (Republika, 28 April 2011) sungguh menarik perhatian saya secara pribadi, dan tentunya pemerhati politik di Indonesia pada umumnya. Keduanya saling mempertanyakan signifikansi mazhab lama dalam politik Islam, antara mempertahankan identitas “Politik Islam” atau sekadar sebagai “Islam Politik”.

Munculnya terminologi antara “Politik Islam” dan “Islam Politik” sesungguhnya tidak dapat dilepaskan dari periode modern pada peradaban manusia, yang mengatur hubungan antara penguasa dan yang dikuasai secara beradab. Secara orisinal, dalam sumber Islam otentik, kedua istilah tersebut tidak pernah kita jumpai. Sebab, medan pergulatan Islam pada masa Rasulullah Muhammad SAW lebih pada konteks hubungan masyarakat (al-mu’aamalah), keyakinan (al-iimaan), al-akhlaaq al-kariimah (character building), rekayasa dan konspirasi (al-makr), dan tidak pernah berbicara kekuasaan dalam konteks politik dan kerajaan. Meskipun saat itu telah ada kerajaan-kerajaan di luar Makkah dan Madinah.

Landasan ini pula sesungguhnya yang membuat Islam, sebagai sebuah ajaran, mampu beradaptasi melintasi batas-batas struktur kekuasaan model apa pun, dan dengan mudah sangat bisa masuk ke wilayah penetrasi kebudayaan manusia. Dalam konteks ini, saya ingin memberikan catatan atas perdebatan Politik Islam dan Islam Politik kedua penulis sebelumnya, dengan sebuah pertanyaan, apakah relevan saat ini kita membicarakan sebuah simbol Politik Islam dan Islam Politik di Indonesia?

Dalam pengamatan saya atas perkembangan politik nasional, sejak Pemilu tahun 1955 sampai Pemilu 2009, ada metamorfosis perilaku politik cukup ekstrem yang terjadi pada umat Islam. Pada level ini sesungguhnya, menurut saya, sudah tidak relevan lagi berbicara politik dalam konteks identifikasi simbolis Islam.

Metamorfosis Islam Indonesia

Clifford Geertz (1983), seorang ahli antropologi yang sangat terkenal dengan istilah trikotomi politik aliran di Indonesia, yang ia sebut dengan santri, abangan, dan priyayi, yang kemudian membaginya ke dalam empat aliran politik yang saling beririsan pada masa 1955, yaitu PNI, Masyumi, NU, dan PKI, telah menjadi rujukan utama bagi para pemerhati politik di Indonesia dalam melihat politik aliran di Indonesia.

Dalam konteks ini, kalau kita kembalikan kepada Geertz, sebagaimana ia mendefinisikan agama sebagai nilai-nilai budaya yang mengandung kumpulan makna, tempat setiap individu menafsirkan pengalamannya dan mengatur perilakunya. Dan, dengan nilai tersebut, pelaku dapat mendefinisikan dunia dan pedoman apa yang akan digunakannya (Geertz, 1992b, 51). Maka itu, dapat dipahami bahwa perkembangan politik di Indonesia, sudah terlepas dari konteks trikotomi simbolis Geertz tersebut.

Artinya, perilaku budaya Islam telah mengalami metamorfosis sehingga menciptakan pengelompokan-pengelompokan baru dalam identitas simbolis masyarakat Islam. Begitu juga, dalam hal mendefinisikan “Islam Politik” ataupun” Politik Islam” di Indonesia, kita tidak bisa lagi menggunakan perspektif simbolis lama, akan pentingnya identitas partai Islam atau tidak.

Identitas politik, pada masa Orde Lama, memang sangat berpengaruh terhadap perolehan suara suatu partai. Sehingga suara partai sangat ditentukan oleh seberapa besar ia menempatkan diri dan komitmen dengan identitas tersebut. Kuntowijoyo (1995) pernah membagi periode Islam Indonesia dalam tiga tahap. Pertama adalah periode mistik. Kedua, periode ideologis. Dan, ketiga, periode ilmu.

Pada periode mistik, kesadaran seseorang sangat bersifat magis. Sehingga perilaku seseorang juga ditentukan oleh tingkat kesadaran tersebut. Ratu adil menjadi simbol utama masyarakat untuk keluar dari masalah yang ada, seperti kemiskinan, ketertindasan, dan keterbelakangan.

Periode ideologis terjadi pada masa perjuangan kemerdekaan sampai pada dua dasawarsa pertama pemerintahan Orde Baru. Pada masa inilah identitas ideologis Islam sangat terlihat. Sehingga untuk menilai seseorang pun cukup dengan pemikiran, tingkah laku, dan komunitasnya. Dalam konteks politik, tentu politik aliran yang menjadi orientasinya.

Pada masa periode ketiga adalah periode ilmu. Setiap orang mulai menggunakan pertimbangan ilmu pengetahuan dalam melihat dan menjalankan sesuatu. Melalui dunia pendidikan yang bebas ideologi, telah membuat mobilisasi vertikal dan horizontal masyarakat Indonesia. Sehingga tidak sedikit orang-orang dalam lingkaran abangan menjadi santri dan kelompok santri juga terlibat dalam komunitas abngan. Semua telah mengalami metamorfosis.

Sehingga wajar, dalam konteks sekarang, perolehan suara Partai Islam mengalami penurunan yang luar biasa. Bukan persoalan identitas dan simbol. Akan tetapi, masyarakat Muslim mengidentifikasi dirinya pada wilayah yang rasional, ilmiah, mulai menghitung kemanfaatan dan pragmatis. Dan, inilah salah satu ciri dari periode ilmu yang memobilisasi masyarakat secara vertikal dan horizontal sehingga terjadi metamorfosis identitas ideologis dalam masyarakat Indonesia.

Menurut hemat saya, masih ada satu periode lagi yang belum sempat diintroduksi oleh Kuntowijoyo sebelum beliau wafat, yaitu periode teknologi informasi. Pada periode ini, telah terjadi mobilisasi masyarakat melalui teknologi informasi dengan cara yang sangat cepat, terbuka, nyata terlihat di depan mata. Jarak menjadi sesuatu yang tak terbatas (borderless) lagi.

Dalam konteks politik, periode ini telah menggeser pola demokrasi deliberasi – yang mengandalkan keterwakilan dan lobi-lobi melalui partai politik atau kelompok kepentingan – menjadi demokrasi daring. Periode ini membuka lebar peluang rakyat untuk mengontrol langsung pemerintah dan membuka kesempatan untuk menggalang dukungan politik secara masif, cepat, dan dengan biaya yang tidak terlalu tinggi (Sunyoto Usman, 2010).

Partai Keadilan Sejahtera (PKS) sebagai representasi kelompok Partai Islam, saat ini telah menegaskan dirinya sebagai partai terbuka dan orang non-Muslim dapat menjadi pengurus partai tersebut. Dalam acara Munas tahun 2010 di Yogyakarta kemarin, menunjukkan bahwa identitas ia sebagai Partai Islam telah mengalami metamorfosis ke tengah, terbuka dan inklusif. Terlepas dari beragam tafsir politik, kenyataannya PKS pun saat ini telah bermetamorfosis identitasnya.

Fenomena metamorfosis Partai Islam dan identitasnya, dalam kacamata periodesasi perilaku umat, sebenarnya hal yang biasa. Artinya, mereka yang mengalami mobilisasi sosial dengan sendirinya akan mengalami metamorfosis. Apalagi, saat ini didukung oleh suatu periode teknologi informasi. Suatu periode, di mana menurut Sunyoto Usman (2010) akan mendorong perubahan relasi-relasi kekuasaan yang lebih kompleks, dan kultur politik yang tidak lagi didominasi oleh ikatan-ikatan primordial dan nepotisme. Akan tetapi, lebih banyak diwarnai oleh nilai politik produk dari kecepatan informasi dan pengetahuan.

Hal ini menunjukkan bahwa dalam konteks kekinian, sesungguhnya simbolisme politik tidak akan lagi berpengaruh terhadap daya dukung konstituen. Orang mau menggunakan simbol atau kulit dengan warna Islam ataupun tidak, sungguh sedikit sekali pengaruhnya. Dengan perangkat teknologi informasi, orang tidak lagi tertarik pada wilayah kulit. Akan tetapi, secara otomatis mereka akan mencari isinya. Selama kulit dan isi tidak sesuai lagi, dengan cepat para konstituen tersebut akan memutuskan untuk tidak memilih dan ikut partai itu lagi.

Yang perlu dikembangkan saat ini, bagi partai pada umumnya dan partai Islam pada khususnya, adalah bagaimana membuka isinya (nilai-nilai) dengan sungguh-sungguh sehingga membuat konstituen tertarik. Bukan justru memoles kulitnya saja, namun isinya semakin dilupakan. Apabila hal ini yang terjadi, yaitu memoles kulit dan melupakan isi, apa pun cara yang digunakan partai tersebut, dengan cepat akan ditinggalkan para konstituennya.

C I N T A

Ya Aziz..........
Jika Cinta Adalah Ketertawanan
Tawanlah Aku Dengan Cinta Kepada-Mu
Agar Tidak Ada Lagi Yang Dapat
Menawanku Selain Engkau

Ya Rohim..........
Jika Cinta Adalah Pengorbanan
Tumbuhkan Niat Dari Semua Pengorbananku
Semata-mata Tulus Untuk-Mu
Agar Aku Ikhlas Menerima Apapun Keputusan-Mu

Ya Robbii..........
Jika Rindu Adalah Rasa Sakit
Yang Tidak Menemukan Muaranya
Penuhilah Rasa Sakitku
Dengan Rindu Kepada-Mu
Dan Jadikan Kematianku Sebagai
Muara Pertemuanku Dengan-Mu
Ya Robbii..........
Jika Sayang Adalah Sesuatu Yang Mempesona
Ikatlah Aku Dengan Pesona-Mu
Agar Damai Senantiasa Kurasakan
Saat Terucap Syukurku Atas Nikmat Dari-Mu

Ya Alloh..........
Jika Kasih Adalah Kebahagiaan
Yang Tiada Bertepi
Tumbuhkan Kebahagiaan Dalam Hidupku
Di saat Kupersembahkan Sesuatu Untuk-Mu

Ya Alloh..........
Hatiku Hanya Cukup Untuk Satu Cinta
Jika Aku Tak Dapat Mengisinya Dengan Cinta Kepada-Mu
Kemanakah Wajahku Hendak Kusembunyikan Dari-Mu

Ya Ar-Rahman.........
Dunia Yg Engkau Bentangkan Begitu Luas
Bagai Belantara Yg Tak Dapat Kutembus
Di Malam Yang Gelap Gulita
Agar Tidak Tersesat Dalam Menapakinya

Ya Ar-Rahhim…….
Berikan Alas Kaki Buat Hamba Agar Jalan Yg Kutapaki Terasa Nikmat
Meski Penuh Dengan Bebatuan Runcing & Duri Yang Tajam
Hamba Sadar Semua Ini Milikmu Dan Suatu Saat
Jika Kau Kehendaki Semuanya Akan Kembali Jua Kepada-Mu

Hamba pasrahkan kehidupan hamba kepada-Mu.

Ketika Hati Menangis

Tuhanku….


ketika hati menangis, hanya kau saja yg tahu


Tuhanku….


Ketika mereka meninggalkan aku sendiri


Ketika dunia tiada simpati, Kau tetap mendengar rintihanku


PadaMu tempatku menagih kasih


Ketenangan kurasa mendekatiMu


Syahdu malam tak terasa sunyi


Tuhanku….


Ketika aku dalam kepayahan, dalam kesendirian dihimpit cobaan


Kau beri aku kesabaran, pengalaman mengajar arti kematangan


Lantas Kau membuka pintu hatiku, untuk memberi kemaafan


Pada mereka yang pernah melupakanku


Tuhanku….


Ketika aku buntu


Kau berikan aku kekuatan, kau tunjukkan aku jalan


Kau tak biarkan aku sendirian


Tuhanku….


Yang Maha Pengasih, Rahmatmu tak terkira


Syukurku melangit pun tak tercapai


Sungguh aku merasa berdosa karena dulu sering lalai


Semoga penyesalanku Kau terima


Minggu, 03 Juli 2011

Akhi.. Ku tunggu pinanganmu..

Akhi..

Jangan engkau puja puji kami bila pujianmu hanyalah janji-janji yang tak menentu. Hanya membuatku terlena dan terbuai hingga kami lupa bahwa kita sedang bermaksiat. Kau puji diriku,tapi kau hanya ingin membuatku tersenyum dan makin terbuai rayuanmu. Tidak.. tidak akhi,kami ingin kau puji setelah kau halal bagiku. Maka datangilah waliku akhi..ku tunggu pinanganmu..

Akhi..

Tak akan kami langgar iffah ku dengan ajakan khalwat dari mu.

Engkaupun sebenarnya tau,hal itu hanya akan menimbulkan badai kelabu yang membuat kita tak berdaya karna pihak ketiga yang tak lain syetan yang ada di dekat kita. Maka datangilah waliku akhi..ku tunggu pinanganmu..

Akhi..

Jagalah sikapmu pada kami,maka akankami jaga sikapku padamu,kami lemah akan sanjunganmu. Kecintaan ini ingin kami persembahkan kelak untuk suami,cinta nan kasih ini yang akan kami tuai untuk mencari ke ridhoan suami kelak. Jadi bagaimana mungkin kami mencinta pada hal yang tidak halal bagi kami, tentu Allah tak akan pernah ridho pada kami. Maka datangilah waliku akhi..ku tunggu pinanganmu..

Akhi..

Jilbabku untuk melindungi kehormatan kami,santun kami untuk menjaga iffah . Jangan kau lenakan kami agar kami lepas kehormatan di hadapanmu sebelum engkau halal bagi kami. kami ingin engkau ikut menjaga kehormatan kami dengan menjaga kami,bukan malah membawa pada kenistaan. Agar kau mampu menjaga kami secara utuh,Maka datangilah waliku akhi..ku tunggu pinanganmu..

Akhi..

kami memang tak sesempurna Aisyah dalam kecerdasan nya ataupun Fatimah dengan kelembutannya. Tapi kamiakan berusaha cerdas layaknya Aisyah dalam naunganmu dan kami akan berusaha selembut Fatimah dalam menenangkanmu.Maka datangilah waliku akhi..ku tunggu pinanganmu..

Akhi..

Kau memang tak sehebat Ali ataupun sekuat Umar,tapi kau akan menjadi hebat layaknya Ali ketika kau menjaga kami dalam kelemahan kami dan kau akan sekuat Umar agar kami tidak selalu menjadi tulang yang bengkok. Kami butuh imam yang bisa menjaga ke imanan,bukan yang mebawa kami pada jurang maksiat. Maka datangilah waliku akhi..ku tunggu pinanganmu..

Sungguh,kami memang tidak mampu menahan kala kami jatuh hati,tapi kami tak akan mengobral pesona kami hanya karna cinta yang menuntut nafsu pada keramahan syetan pada kami. Bukanlah jatuh cinta bila kau ajak kami pada kemaksiatan. Bila kau memang jatuh cinta pada kami,jangan kau bebankan deritamu pada hati yang akan memuntutmu untuk berbuat nista. Ijinkan kami menjaga hatimu,agar kita bisa menjelang bersama Jannah Nya.Maka datangilah waliku akhi..ku tunggu pinanganmu..

“Wahai jika engkau memiliki cinta

Dan telah terdorong dengan kerinduan

Maka anggaplah jarak perjalanan itu dekat

Karna kecintaan dan kerelaanmu pada penyeru

Ketika mereka menyeru..!!

Maka katakanlah,kami penuhi panggilanmu.

Seribu kali dengan sempurna

Janganlah kau berpaling

Hanya karna melihat gerimis

Jika engkau melihatnya “( Fii Zilalil Mahabbah )”



*adaptasi RKI

Rabu, 22 Juni 2011

andai saja hati ini mampu kulepaskan dari diriku,
aku akan simpannya rapat di dalam kotak yang tak seorangpun mampu menjamahnya,.
akan kulepaskan dari duka yang merenangi diriku saat ini,
akan ku tanggalkan sesak yang merajai segala asa,.

andai saja aku mampu membendung air mata yang sudah berdesak pilu menanti turun,
aku akan bawakan sejuta asa untuk membendungnya,.
akan aku tahan isak yang membara menetes di dada,.
akan aku hempaskan seribu risau yang membelai pelupuknya,.

aku ingin memejamkan mataku dari segalanya yang tak tahan ku rasa,.
aku ingin terbaring sejenak menghembuskan nafas yang tak kurasa segar,.
aku ingin memeluk bahagia yang mendamaikan,.
aku ingin menelan suka yang tak menggelora pilu,.

Tuhan,.
terlalu hina jika aku mengatakan,
"aku tak kuat akan hal ini",
sementara nikmat yang Kau hadirkan begitu banyak untuk aku mampu melewatinya,.
namun aku tak kuasa dalam kondisi ini,
aku lemah tanpa-Mu,.
apakah aku telah Jauh dari-Mu,
sampai aku tidak menemukan kekuatan atas langkah ini,.
hingga aku tak sepenuhnya yakin Kau mengiringi langkahku dan memeluk erat diriku dalam Rahman dan Rahim-Mu,.

Allah,.
Kau sedang mengujiku rupanya,.

aku yakin,
dan tetap harus yakin,.
aku tak boleh seperti ini,.

yakin
aku mampu menghadapinya
dan aku mampu menopangnya dengan bahuku yang terlihat kecil ini
serta aku mampu berdiri tegar dalam cinta-Mu

KISAH CINTA ALI DAN FATIMAH

Ada rahasia terdalam di hati ‘Ali yang tak dikisahkannya pada siapapun. Fathimah. Karib kecilnya, puteri tersayang dari Sang Nabi yang adalah sepupunya itu, sungguh memesonanya. Kesantunannya, ibadahnya, kecekatan kerjanya, parasnya. Lihatlah gadis itu pada suatu hari ketika ayahnya pulang dengan luka memercik darah dan kepala yang dilumur isi perut unta. Ia bersihkan hati-hati, ia seka dengan penuh cinta. Ia bakar perca, ia tempelkan ke luka untuk menghentikan darah ayahnya.

Semuanya dilakukan dengan mata gerimis dan hati menangis. Muhammad ibn ’Abdullah Sang Tepercaya tak layak diperlakukan demikian oleh kaumnya! Maka gadis cilik itu bangkit. Gagah ia berjalan menuju Ka’bah. Di sana, para pemuka Quraisy yang semula saling tertawa membanggakan tindakannya pada Sang Nabi tiba-tiba dicekam diam. Fathimah menghardik mereka dan seolah waktu berhenti, tak memberi mulut-mulut jalang itu kesempatan untuk menimpali. Mengagumkan!

‘Ali tak tahu apakah rasa itu bisa disebut cinta. Tapi, ia memang tersentak ketika suatu hari mendengar kabar yang mengejutkan. Fathimah dilamar seorang lelaki yang paling akrab dan paling dekat kedudukannya dengan Sang Nabi. Lelaki yang membela Islam dengan harta dan jiwa sejak awal-awal risalah. Lelaki yang iman dan akhlaqnya tak diragukan; Abu Bakr Ash Shiddiq, Radhiyallaahu ’Anhu.

”Allah mengujiku rupanya”, begitu batin ’Ali.

Ia merasa diuji karena merasa apalah ia dibanding Abu Bakr. Kedudukan di sisi Nabi? Abu Bakr lebih utama, mungkin justru karena ia bukan kerabat dekat Nabi seperti ’Ali, namun keimanan dan pembelaannya pada Allah dan RasulNya tak tertandingi. Lihatlah bagaimana Abu Bakr menjadi kawan perjalanan Nabi dalam hijrah sementara ’Ali bertugas menggantikan beliau untuk menanti maut di ranjangnya.

Lihatlah juga bagaimana Abu Bakr berda’wah. Lihatlah berapa banyak tokoh bangsawan dan saudagar Makkah yang masuk Islam karena sentuhan Abu Bakr; ’Utsman, ’Abdurrahman ibn ’Auf, Thalhah, Zubair, Sa’d ibn Abi Waqqash, Mush’ab.. Ini yang tak mungkin dilakukan kanak-kanak kurang pergaulan seperti ’Ali.

Lihatlah berapa banyak budak Muslim yang dibebaskan dan para faqir yang dibela Abu Bakr; Bilal, Khabbab, keluarga Yassir, ’Abdullah ibn Mas’ud.. Dan siapa budak yang dibebaskan ’Ali? Dari sisi finansial, Abu Bakr sang saudagar, insya Allah lebih bisa membahagiakan Fathimah.

’Ali hanya pemuda miskin dari keluarga miskin. ”Inilah persaudaraan dan cinta”, gumam ’Ali.

”Aku mengutamakan Abu Bakr atas diriku, aku mengutamakan kebahagiaan Fathimah atas cintaku.”

Cinta tak pernah meminta untuk menanti. Ia mengambil kesempatan atau mempersilakan. Ia adalah keberanian, atau pengorbanan.

Beberapa waktu berlalu, ternyata Allah menumbuhkan kembali tunas harap di hatinya yang sempat layu.

Lamaran Abu Bakr ditolak. Dan ’Ali terus menjaga semangatnya untuk mempersiapkan diri. Ah, ujian itu rupanya belum berakhir. Setelah Abu Bakr mundur, datanglah melamar Fathimah seorang laki-laki lain yang gagah dan perkasa, seorang lelaki yang sejak masuk Islamnya membuat kaum Muslimin berani tegak mengangkat muka, seorang laki-laki yang membuat syaithan berlari takut dan musuh- musuh Allah bertekuk lutut.

’Umar ibn Al Khaththab. Ya, Al Faruq, sang pemisah kebenaran dan kebathilan itu juga datang melamar Fathimah. ’Umar memang masuk Islam belakangan, sekitar 3 tahun setelah ’Ali dan Abu Bakr. Tapi siapa yang menyangsikan ketulusannya? Siapa yang menyangsikan kecerdasannya untuk mengejar pemahaman? Siapa yang menyangsikan semua pembelaan dahsyat yang hanya ’Umar dan Hamzah yang mampu memberikannya pada kaum muslimin? Dan lebih dari itu, ’Ali mendengar sendiri betapa seringnya Nabi berkata, ”Aku datang bersama Abu Bakr dan ’Umar, aku keluar bersama Abu Bakr dan ’Umar, aku masuk bersama Abu Bakr dan ’Umar..”

Betapa tinggi kedudukannya di sisi Rasul, di sisi ayah Fathimah. Lalu coba bandingkan bagaimana dia berhijrah dan bagaimana ’Umar melakukannya. ’Ali menyusul sang Nabi dengan sembunyi-sembunyi, dalam kejaran musuh yang frustasi karena tak menemukan beliau Shallallaahu ’Alaihi wa Sallam. Maka ia hanya berani berjalan di kelam malam. Selebihnya, di siang hari dia mencari bayang-bayang gundukan bukit pasir. Menanti dan bersembunyi.

’Umar telah berangkat sebelumnya. Ia thawaf tujuh kali, lalu naik ke atas Ka’bah. ”Wahai Quraisy”, katanya. ”Hari ini putera Al Khaththab akan berhijrah. Barangsiapa yang ingin isterinya menjanda, anaknya menjadi yatim, atau ibunya berkabung tanpa henti, silakan hadang ’Umar di balik bukit ini!” ’Umar adalah lelaki pemberani. ’Ali, sekali lagi sadar. Dinilai dari semua segi dalam pandangan orang banyak, dia pemuda yang belum siap menikah. Apalagi menikahi Fathimah binti Rasulillah! Tidak. ’Umar jauh lebih layak. Dan ’Ali ridha.

Cinta tak pernah meminta untuk menanti.

Ia mengambil kesempatan.

Itulah keberanian.

Atau mempersilakan.

Yang ini pengorbanan.

Maka ’Ali bingung ketika kabar itu meruyak. Lamaran ’Umar juga ditolak.

Menantu macam apa kiranya yang dikehendaki Nabi? Yang seperti ’Utsman sang miliarderkah yang telah menikahi Ruqayyah binti Rasulillah? Yang seperti Abul ’Ash ibn Rabi’kah, saudagar Quraisy itu, suami Zainab binti Rasulillah? Ah, dua menantu Rasulullah itu sungguh membuatnya hilang kepercayaan diri.

Di antara Muhajirin hanya ’Abdurrahman ibn ’Auf yang setara dengan mereka. Atau justru Nabi ingin mengambil menantu dari Anshar untuk mengeratkan kekerabatan dengan mereka? Sa’d ibn Mu’adzkah, sang pemimpin Aus yang tampan dan elegan itu? Atau Sa’d ibn ’Ubaidah, pemimpin Khazraj yang lincah penuh semangat itu?

”Mengapa bukan engkau yang mencoba kawan?”, kalimat teman-teman Ansharnya itu membangunkan lamunan. ”Mengapa engkau tak mencoba melamar Fathimah? Aku punya firasat, engkaulah yang ditunggu-tunggu Baginda Nabi.. ”

”Aku?”, tanyanya tak yakin.

”Ya. Engkau wahai saudaraku!”

”Aku hanya pemuda miskin. Apa yang bisa kuandalkan?”

”Kami di belakangmu, kawan! Semoga Allah menolongmu!”

’Ali pun menghadap Sang Nabi. Maka dengan memberanikan diri, disampaikannya keinginannya untuk menikahi Fathimah. Ya, menikahi. Ia tahu, secara ekonomi tak ada yang menjanjikan pada dirinya. Hanya ada satu set baju besi di sana ditambah persediaan tepung kasar untuk makannya. Tapi meminta waktu dua atau tiga tahun untuk bersiap-siap? Itu memalukan! Meminta Fathimah menantikannya di batas waktu hingga ia siap? Itu sangat kekanakan. Usianya telah berkepala dua sekarang.

”Engkau pemuda sejati wahai ’Ali!”, begitu nuraninya mengingatkan. Pemuda yang siap bertanggungjawab atas cintanya. Pemuda yang siap memikul resiko atas pilihan- pilihannya. Pemuda yang yakin bahwa Allah Maha Kaya. Lamarannya berjawab, ”Ahlan wa sahlan!” Kata itu meluncur tenang bersama senyum Sang Nabi.

Dan ia pun bingung. Apa maksudnya? Ucapan selamat datang itu sulit untuk bisa dikatakan sebagai isyarat penerimaan atau penolakan. Ah, mungkin Nabi pun bingung untuk menjawab. Mungkin tidak sekarang. Tapi ia siap ditolak. Itu resiko. Dan kejelasan jauh lebih ringan daripada menanggung beban tanya yang tak kunjung berjawab. Apalagi menyimpannya dalam hati sebagai bahtera tanpa pelabuhan. Ah, itu menyakitkan.

”Bagaimana jawab Nabi kawan? Bagaimana lamaranmu?”

”Entahlah..”

”Apa maksudmu?”

”Menurut kalian apakah ’Ahlan wa Sahlan’ berarti sebuah jawaban!”

”Dasar tolol! Tolol!”, kata mereka,

”Eh, maaf kawan.. Maksud kami satu saja sudah cukup dan kau mendapatkan dua! Ahlan saja sudah berarti ya. Sahlan juga. Dan kau mendapatkan Ahlan wa Sahlan kawan! Dua-duanya berarti ya !”

Dan ’Ali pun menikahi Fathimah. Dengan menggadaikan baju besinya. Dengan rumah yang semula ingin disumbangkan ke kawan-kawannya tapi Nabi berkeras agar ia membayar cicilannya. Itu hutang.

Dengan keberanian untuk mengorbankan cintanya bagi Abu Bakr, ’Umar, dan Fathimah. Dengan keberanian untuk menikah. Sekarang. Bukan janji-janji dan nanti-nanti.

’Ali adalah gentleman sejati. Tidak heran kalau pemuda Arab memiliki yel, “Laa fatan illa ‘Aliyyan! Tak ada pemuda kecuali Ali!” Inilah jalan cinta para pejuang. Jalan yang mempertemukan cinta dan semua perasaan dengan tanggung jawab. Dan di sini, cinta tak pernah meminta untuk menanti. Seperti ’Ali. Ia mempersilakan. Atau mengambil kesempatan. Yang pertama adalah pengorbanan. Yang kedua adalah keberanian.

Dan ternyata tak kurang juga yang dilakukan oleh Putri Sang Nabi, dalam suatu riwayat dikisahkan bahwa suatu hari (setelah mereka menikah) Fathimah berkata kepada ‘Ali, “Maafkan aku, karena sebelum menikah denganmu. Aku pernah satu kali jatuh cinta pada seorang pemuda ”

‘Ali terkejut dan berkata, “kalau begitu mengapa engkau mau manikah denganku? dan Siapakah pemuda itu?”

Sambil tersenyum Fathimah berkata, “Ya, karena pemuda itu adalah Dirimu”

Kemudian Nabi saw bersabda: “Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla memerintahkan aku untuk menikahkan Fatimah puteri Khadijah dengan Ali bin Abi Thalib, maka saksikanlah sesungguhnya aku telah menikahkannya dengan maskawin empat ratus Fidhdhah (dalam nilai perak), dan Ali ridha (menerima) mahar tersebut.”

Kemudian Rasulullah saw. mendoakan keduanya:

“Semoga Allah mengumpulkan kesempurnaan kalian berdua, membahagiakan kesungguhan kalian berdua, memberkahi kalian berdua, dan mengeluarkan dari kalian berdua kebajikan yang banyak.” (kitab Ar-Riyadh An-Nadhrah 2:183, bab4)