Tampilkan postingan dengan label ALL ABOUT CINTA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ALL ABOUT CINTA. Tampilkan semua postingan

Minggu, 19 Februari 2012

MENIKAH, MENYATUKAN DUA VISI INDIVIDU DALAM DAKWAH


Dalam salah satu bukunya salim A. Fillah menuliskan bahwa, “ Menikah adalah keindahan, kecuali yang memnganggapnya sebagai beban. Rumah tangga adalah kemuliaan, kecuali bagi yang memandangnya sebagai rutinitas tak bermakna. Menikah, dakwah dan jihad adalah seiring sejalan , kecuali bagi orang – orang yang yang terkacaukan logika dan nalarnya. Menikah adalah bagian dari dua hal ini, kecuali bagi yang yang memandangnya buah yang dipetik atau rehat yang diambil setelah lama menjadi aktivis bujang”.

Ketika mencoba berkaca kepada Rasululloh, maka kita akan menemukan bahwa pernikahan itu mempunyai misi yang mulia, bukan hanya membangun sebuah keluarga yang islami. Beliau mempunyai misi tersendiri ketika akan mempersunting seorang perempuan. Contoh ketika mempersunting Aisyah dan Hafshoh . Keduanya adalah putri-putri dari Abu Bakar dan Umar bin Khattab. Beliau mempersunting kedua wanita itu untuk tujuan mempererat tali persaudaraan dengan orang – orang yang telah membantu beliau dalam perjuangan dakwah.

Atau saat Rasulullah menikahi Zainab binti Jahsy. Pernikahan ini, yang perintahnya langsung dari Allah SWT ini dilakukan untuk menghapuskan sebuah tradisi di kalangan masyarakat Arab pada waktu itu , yaitu pemalsuan keturunan.

Atau saat Rasulullah menikahi Juwairiyah binti Harits. Beliau menikahi wanita itu untuk memberikan contoh kepada kaum Muslim tentang kebajikan dan pertolongan yang patut diberikan kepada kabilah-kabilah yang telah tunduk sepenuhnya pada pemerintahan Islam pada waktu itu. Jadi kita tahu bahwa selalu ada misi-misi dakwah yang jelas dan riil dalam setiap pernikahan nabi.

Dengan beberapa misi yang kita pelajari dari perjalanan pernikahan yang dilakukan oleh Rasulullah maka kita bisa tahu bahwa menikah dan berdakwah bukanlah dua hal yang saling kontraproduktif. Satu dengan yang lain saling menguatkan. Sehingga tidak ada alasan yang membenarkan bahwa pernikahan yang kita lakukan akan memutus keterlibatan kita dalam dakwah. Salah seorang sahabat, Usamah ibn Zaid sebelum menjadi panglima di usia 18 tahun, telah menikah dengan Fatimah binti Qais di usia 16 tahun.

Sehingga dalam perniahan para kader – ikhwan maupun akhwat- dahwah memiliki sejuta makna, banyak sekali.setidaknya, suatu istitusi keluarga bagi dakwah dapat dipahami sebagai :

1. Bersatunya dua potensi besar pribadi islam dari hasil tarbiyah

2. Bagian dari proyek besar pembentukan masyarakat islami

3. Produktif dalam menghasilkan kebaikan internal maupun eksternal

4. Prototipe pembangunan peradaban baru di masyarakat

5. Memiliki otoritas penuh (daulah) dengan segala idealitasnya

6. Mulai diakui eksistensi social da’I di masyarakat

7. Sarana dalam menjaga keseimbangan dakwah

Oleh karena itu Ustdz, Hasan Al Banna mengemukakan tingkatan amal yang kedua adalah membangun rumah tangga yang islami.


Oleh : Hanafi - Dikutip dari berbagai sumber


Jumat, 17 Februari 2012

HUJAN


hujan ini tak henti sedari tadi bagaikan nyanyian yang ber irama..
aku senang mendengarnya,
menatapnya,
bahkan seolah hingga mampu bercengkrama dengannya..

aku ingin turut serta ada di dalamnya,
dalam dendangan yang hanya aku dan dirinya mampu memahaminya

suaranya lembut mengiringi layaknya sang balerina yang menari dengan jelita,
lebih indah dari dentingan yang pernah aku dengar sebelumnya..

nadanya merdu nan mempesona,
lebih cantik dari hatiku yang pernah bersenandung dalam harapan yang meraja..

dan,

ramainya,
mengusik hingga di ujung kalbu yang menahan rindu sekian abad lamanya..

tatapanku tak henti mengarah padanya,

butiran air ingin kugapai dan kugenggam dengan jemariku,
aku ingin menggambarkan pilu, ingin menari dalam sendu..

bukan untuk sekedar mengadu,
namun ada makna yang ingin ku ungkapkan lebih daripada itu..

lebih daripada rasaku yang bergelayut asa nan bergelora
senyum dalam canda yang bersahaja,
dan ,
cinta yang menggugurkan rasa dengki pada hati yang mulai bertakhta..


aku ingin bersamamu cinta,
melalui barokah rindu yang Kau turunkan di luar sana,
dalam hamparan sayang yang penuh tercipta pada seorang hamba,
meromantiskan perjumpaan yang tak pernah ternilai hanya dengan sebuah harga..
lembut, romantis, dan berpahala..

biarlah rasa ini bergelayut lembut dalam rintikkan air yang turun dari langit penuh dengan keikhlasan sang Maha Pencipta..


dalam gemericik nyanyian air hujan yang begitu mempesona..

-maryanaindahlestari-

Jumat, 10 Februari 2012

Jika Jodoh ..


Jika Jodoh adalah TAKDIR maka aku tak perlu risau menerka dia atau dia jodohku dengan jalan mencoba menjalin hubungan tanpa kehalalan sebagai alasan sebuah usaha pencarian. Jika jodoh adalah TAKDIR maka aku harus beriman padanya, pada takdir-Nya bhwa jika sebuah nama telah ditetapkan menjadi belahan jiwa kita, kita pasti dipertemukan dengannya dlm ikatan yg diridhai-Nya. Maka cukuplah masa lajangku ku isi dng perbaikan dan menuntut ilmu,cukuplah itu memberiku ketenangan ketimbang melanglang buana menjadi petualang cinta.

Namun, Jika Jodoh adalah pilihan,, Maka aku wajib berbenah diri, karena Rasullullah pernah bersabda ''…pilihlah yg baik agamanya agar kamu beruntung…''
Ya, jika aku tetap memilih seseorang hanya krn silau akan kekayaannya meski agama dan akhlaknya buruk, maka pernikahan ku tak akan pernah dibarakahi-Nya.

TAKDIR ataupun PILIHAN tugas kita tetap sama, yaitu menuntut ilmu, berbenah diri dan membangun cinta kita pada Allah Ta'aala.

(Ameera Afya)

Kamis, 12 Januari 2012

SAHABAT...

Sahabat…


Izinkanlah aku menemani mu tak hanya di kala kau bahagia, Izinkanlah aku tetap di sini berjalan beriringan bersama mu walau buliran airmata menetes dari sudut ruang mata mu.


Meringankan beban mu adalah sesuatu yang sangat berharga bagi ku. Berbagi dengan mu adalah salah satu hal terindah dalam hidup ku. Dan tersenyum bersama mu adalah salah satu hadiah terbaik yang ku dapatkan.


Ingatkah dulu…

Saat kita bersama mengukir sebuah senyuman, berbagi cerita penuh cinta, mengais hikmah bersama dalam setiap episode kehidupan… hingga menitikkan air mata bersama saat gulita yang kita temukan. ingatkah kau?


Sahabat,


Aku bukanlah malaikat, aku hanyalah manusia biasa yang penuh dengan segala kekurangan. Aku tahu rasa cinta pada mu adalah hal yang utama dibandingkan aku mencintai diri ku sendiri. Namun…bila kelak kau menemukan cacat pada diri ku yang tanpa sengaja menyakiti mu, janganlah kau hujat aku. Yang aku minta adalah ingatkan aku dengan nasihat yang penuh dengan hikmah kehidupan…kemudian maafkanlah aku…


Sahabat,


Aku pun menyadari bahwa kau pun sama sepertiku yang hanya manusia biasa. Jika kelak aku pun menemukan cacat pada mu, tak akan ku hakimi kau dengan lisan ku ataupun dengan tangan ku. Namun…akan ku panjatkan doa pada Sang Ilahi agar dengan segera Dia memberikan kedamaian dan kelapangan dalam hati ku hingga tak ada dendam merasuki hati ini. Dan jika kau tak berkeberatan izinkan jua aku mengingatkan mu dengan nasihat yang penuh dengan hikmah kehidupan…


Sahabat,


Ingin sekali aku belajar dari seorang Abu Bakar yang tidak mengeluh saat ular menggigit pergelangan kakinya ketika Rasulullah sedang tertidur di pangkuannya. Karena rasa cinta yang ada pada Abu Bakar kepada Rasul lah yang pada akhirnya mengurungkan niat beliau untuk mengganggu istirahat Sang Nabi. hingga akhirnya meluruhlah air mata beliau dari pelupuk matanya karena menahan rasa sakit itu. Atau kisah cinta para Sahabat lainnya kepada Rasulullah hingga cinta itu utuh sempurna terhimpun menuju syurga-Nya. Itulah ukhuwah….


Sahabat,


Percayalah… semua itu ada karena rasa cinta. Rasa cinta yang tumbuh bukan karena kau adalah seorang yang kaya, bukan pula karena kedudukan mu di dunia atau bukanlah karena kepintaran mu semata. Sungguh, Allah lah yang telah menghimpun rasa ini dalam jiwa dan hati kita hingga kita raih bersama hakikat cinta yang sesungguhnya, yaitu Cinta Karena-Nya…


Dari Umar bin Khatab RA, Rasulullah SAW mengatakan kepadaku, ‘sesungguhnya di antara hamba-hamba Allah terdapat sekelompok orang yang mereka ini bukan para nabi dan bukan pula orang yang mati syahid, namun posisi mereka di sisi Allah membuat para nabi dan orang yang mati syahid menjadi iri. Para sahabat bertanya, beritahukan kepada kami, siapakah mereka itu ya Rasulullah? Beliau menjawab, ‘mereka adalah sekelompok orang yang saling mencintai karena Allah SWT, meskipun di antara mereka tiada ikatan persaudaraan dan tiada pula kepentingan materi yang memotivasi mereka. Demi Allah, wajah mereka bercahaya, dan mereka berada di atas cahaya. Mereka tidak takut manakala manusia takut, dan mereka tidak bersedih hati manakala manusia bersedih hati.’ Lalu Rasulullah SAW membacakan ayat ‘Sesungguhnya wali-wali Allah itu, mereka tidak takut dan tidak pula bersedih hati.” (HR. Abu Daud).


Salam Penuh Cinta,


Maryana Indah Lestari…

Minggu, 06 November 2011

ALASAN ILMIAH DI BALIK LARANGAN KHALWAT

Oleh Abdul Daim Al-Kahil



Perintah untuk tidak berkhalwat (berdua-duaan) antara seorang pria dan wanita yang bukan mahram selama ini dipatuhi seorang mukmin sebagai ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Tapi, jarang dari kita yang mengetahui alasan ilmiah di balik perintah itu.

Kenapa hal tersebut dilarang dan dianggap berbahaya oleh syariat Islam? Bagian tubuh kita yang mana yang ternyata berpengaruh terhadap kondisi khalwat itu?

Baru-baru ini, sebuah penelitian membuktikan bahaya berkhalwat tersebut.

Para peneliti di Universitas Valencia menegaskan bahwa seorang yang berkhalwat dengan wanita menjadi daya tarik yang akan menyebabkan kenaikan sekresi hormon kortisol. Kortisol adalah hormon yang bertanggung jawab terjadinya stres dalam tubuh. Meskipun subjek penelitian mencoba untuk melakukan penelitian atau hanya berpikir tentang wanita yang sendirian denganya hanya dalam sebuah simulasi penelitian. Namun hal tersebut tidak mampu mencegah tubuh dari sekresi hormon tersebut.

"Cukuplah anda duduk selama lima menit dengan seorang wanita. Anda akan memiliki proporsi tinggi dalam peningkatan hormon tersebut," inilah temuan studi ilmiah baru-baru ini yang dimuat pada Daily Telegraph!

Para ilmuwan mengatakan bahwa hormon kortisol sangat penting bagi tubuh dan berguna untuk kinerja tubuh tetapi dengan syarat mampu meningkatkan proporsi yang rendah, namun jika meningkat hormon dalam tubuh dan berulang terus proses tersebut, maka yang demikian dapat menyebabkan penyakit serius seperti penyakit jantung dan tekanan darah tinggi dan berakibat pada diabetes dan penyakit lainnya yang mungkin meningkatkan nafsu seksual.

Bentuk yang menyerupai alat proses hormon penelitian tersebut berkata bahwa stres yang tinggi hanya terjadi ketika seorang laki-laki berkhalwat dengan wanita asing (bukan mahram), dan stres tersebut akan terus meningkat pada saat wanitanyamemiliki daya tarik lebih besar! Tentu saja, ketika seorang pria bersama dengan wanita yang merupakan saudaranya sendiri atau saudara dekat atau ibunya sendiri tidak akan terjadi efek dari hormon kortisol. Seperti halnya ketika pria duduk dengan seorang pria aneh, hormon ini tidak naik. Hanya ketika sendirian dengan seorang pria dan seorang wanita yang aneh!

Para peneliti mengatakan bahwa pria ketika ada perempuan asing disisinya, dirinya dapat membayangkan bagaimana membangun hubungan dengannya (jika tidak emosional), dan dalam penelitian lain, para ilmuwan menekankan bahwa situasi ini (untuk melihat wanita dan berpikir tentang mereka) jika diulang, mereka memimpin dari waktu ke waktu untuk penyakit kronis dan masalah psikologis seperti depresi.

Nabi saw mengharaman khalwat

Kita semua tahu hadits yang terkenal yang mengatakan: "Tidaknya ada orang yang seorang laki-laki berkhlawat dengan wanita kecuali setan adalah yang ketiga, hadits ini menegaskan diharamkannya berkhalwat bagi seorang pria dengan wanita asing atau bukan mahramnyaI . karena itu Nabi saw melalui syariat ini menginginkan kita menghindari banyak penyakit sosial dan fisik.

Ketika seorang beriman mampu menghindari diri dari melihat wanita (yang bukan mahram) dan menghindari diri dari berkhalwat dengan mereka, maka ia mampu mencegah penyebaran amoralitas dan dengan demikian melindungi masyarakat dari penyakit epidemi dan masalah sosial, dan mencegah individu dari berbagai penyakit ...

Kami sampaikan kepada mereka yang tidak puas dengan agama kami yang hanif: Bukankah Islam sebagai agama layak dihormati dan diikuti? mnh/alkaheel


Sabtu, 29 Oktober 2011

Assalammu'alaikum Warohmatullahi Wabarokatu,.

Dear calon suamiku..
apa kabarnya imanmu hari ini?
Sudahkah harimu ini diawali dengan syukur
karena dapat menatap kembali fananya hidup ini
sudahkah air wudhu
menyegarkan kembali ingatanmu
atas amanah yang saat ini tengah kau genggam

Wahai calon suamiku,.
taukah engkau betapa Alloh mencintaiku dengan dahsyat
disini aku ditempa untuk menjadi dewasa,
agar aku lebih bijak menyikapi sebuah kehidupan dan siap mendampingimu kelak,
meskipun kadang keluh dan putus asa menyergapi,
namun kini kurasakan diri ini lebih baik,

kadang aku bertanya-tanya,
mengapa Allah mengujiku tepat dihatiku.
bagian terapuh diriku.
namun kini aku tahu jawabannya

Alloh tahu dimana tempat yang paling tepat
agar aku senantiasa kembali mengingat-Nya.
kembali mencinta-Nya.
Ujian demi ujian InsyaAlloh membuatku menjadi lebih tangguh,
sehingga saat kelak kita bertemu,
kau bangga telah memiliki aku dihatimu..

Calon suamiku,
entah dimana dirimu sekarang
tapi aku yakin, Allohpun mencintamu sebagaimana Dia mencintaiku.
Aku yakin Dia kini telah melatihmu menjadi mujahid yang tangguh,
hingga aku bangga memilikimu kelak

apa yang kuharapkan darimu adalah keshalihan.
semoga sama halnya dengan dirimu
.
karena apabila kecantikan yang kau harapkan dariku,
hanya kesia-siaan yang akan kau dapati

aku masih haus akan ilmu,
tapi berbekal ilmu yang ada saat ini,
aku berharap dapat menjadi istri yang mendapat keridhaan Alloh dan dirimu,
Suamiku..

Minggu, 31 Juli 2011

C I N T A

Ya Aziz..........
Jika Cinta Adalah Ketertawanan
Tawanlah Aku Dengan Cinta Kepada-Mu
Agar Tidak Ada Lagi Yang Dapat
Menawanku Selain Engkau

Ya Rohim..........
Jika Cinta Adalah Pengorbanan
Tumbuhkan Niat Dari Semua Pengorbananku
Semata-mata Tulus Untuk-Mu
Agar Aku Ikhlas Menerima Apapun Keputusan-Mu

Ya Robbii..........
Jika Rindu Adalah Rasa Sakit
Yang Tidak Menemukan Muaranya
Penuhilah Rasa Sakitku
Dengan Rindu Kepada-Mu
Dan Jadikan Kematianku Sebagai
Muara Pertemuanku Dengan-Mu
Ya Robbii..........
Jika Sayang Adalah Sesuatu Yang Mempesona
Ikatlah Aku Dengan Pesona-Mu
Agar Damai Senantiasa Kurasakan
Saat Terucap Syukurku Atas Nikmat Dari-Mu

Ya Alloh..........
Jika Kasih Adalah Kebahagiaan
Yang Tiada Bertepi
Tumbuhkan Kebahagiaan Dalam Hidupku
Di saat Kupersembahkan Sesuatu Untuk-Mu

Ya Alloh..........
Hatiku Hanya Cukup Untuk Satu Cinta
Jika Aku Tak Dapat Mengisinya Dengan Cinta Kepada-Mu
Kemanakah Wajahku Hendak Kusembunyikan Dari-Mu

Ya Ar-Rahman.........
Dunia Yg Engkau Bentangkan Begitu Luas
Bagai Belantara Yg Tak Dapat Kutembus
Di Malam Yang Gelap Gulita
Agar Tidak Tersesat Dalam Menapakinya

Ya Ar-Rahhim…….
Berikan Alas Kaki Buat Hamba Agar Jalan Yg Kutapaki Terasa Nikmat
Meski Penuh Dengan Bebatuan Runcing & Duri Yang Tajam
Hamba Sadar Semua Ini Milikmu Dan Suatu Saat
Jika Kau Kehendaki Semuanya Akan Kembali Jua Kepada-Mu

Hamba pasrahkan kehidupan hamba kepada-Mu.

Ketika Hati Menangis

Tuhanku….


ketika hati menangis, hanya kau saja yg tahu


Tuhanku….


Ketika mereka meninggalkan aku sendiri


Ketika dunia tiada simpati, Kau tetap mendengar rintihanku


PadaMu tempatku menagih kasih


Ketenangan kurasa mendekatiMu


Syahdu malam tak terasa sunyi


Tuhanku….


Ketika aku dalam kepayahan, dalam kesendirian dihimpit cobaan


Kau beri aku kesabaran, pengalaman mengajar arti kematangan


Lantas Kau membuka pintu hatiku, untuk memberi kemaafan


Pada mereka yang pernah melupakanku


Tuhanku….


Ketika aku buntu


Kau berikan aku kekuatan, kau tunjukkan aku jalan


Kau tak biarkan aku sendirian


Tuhanku….


Yang Maha Pengasih, Rahmatmu tak terkira


Syukurku melangit pun tak tercapai


Sungguh aku merasa berdosa karena dulu sering lalai


Semoga penyesalanku Kau terima


Minggu, 03 Juli 2011

Akhi.. Ku tunggu pinanganmu..

Akhi..

Jangan engkau puja puji kami bila pujianmu hanyalah janji-janji yang tak menentu. Hanya membuatku terlena dan terbuai hingga kami lupa bahwa kita sedang bermaksiat. Kau puji diriku,tapi kau hanya ingin membuatku tersenyum dan makin terbuai rayuanmu. Tidak.. tidak akhi,kami ingin kau puji setelah kau halal bagiku. Maka datangilah waliku akhi..ku tunggu pinanganmu..

Akhi..

Tak akan kami langgar iffah ku dengan ajakan khalwat dari mu.

Engkaupun sebenarnya tau,hal itu hanya akan menimbulkan badai kelabu yang membuat kita tak berdaya karna pihak ketiga yang tak lain syetan yang ada di dekat kita. Maka datangilah waliku akhi..ku tunggu pinanganmu..

Akhi..

Jagalah sikapmu pada kami,maka akankami jaga sikapku padamu,kami lemah akan sanjunganmu. Kecintaan ini ingin kami persembahkan kelak untuk suami,cinta nan kasih ini yang akan kami tuai untuk mencari ke ridhoan suami kelak. Jadi bagaimana mungkin kami mencinta pada hal yang tidak halal bagi kami, tentu Allah tak akan pernah ridho pada kami. Maka datangilah waliku akhi..ku tunggu pinanganmu..

Akhi..

Jilbabku untuk melindungi kehormatan kami,santun kami untuk menjaga iffah . Jangan kau lenakan kami agar kami lepas kehormatan di hadapanmu sebelum engkau halal bagi kami. kami ingin engkau ikut menjaga kehormatan kami dengan menjaga kami,bukan malah membawa pada kenistaan. Agar kau mampu menjaga kami secara utuh,Maka datangilah waliku akhi..ku tunggu pinanganmu..

Akhi..

kami memang tak sesempurna Aisyah dalam kecerdasan nya ataupun Fatimah dengan kelembutannya. Tapi kamiakan berusaha cerdas layaknya Aisyah dalam naunganmu dan kami akan berusaha selembut Fatimah dalam menenangkanmu.Maka datangilah waliku akhi..ku tunggu pinanganmu..

Akhi..

Kau memang tak sehebat Ali ataupun sekuat Umar,tapi kau akan menjadi hebat layaknya Ali ketika kau menjaga kami dalam kelemahan kami dan kau akan sekuat Umar agar kami tidak selalu menjadi tulang yang bengkok. Kami butuh imam yang bisa menjaga ke imanan,bukan yang mebawa kami pada jurang maksiat. Maka datangilah waliku akhi..ku tunggu pinanganmu..

Sungguh,kami memang tidak mampu menahan kala kami jatuh hati,tapi kami tak akan mengobral pesona kami hanya karna cinta yang menuntut nafsu pada keramahan syetan pada kami. Bukanlah jatuh cinta bila kau ajak kami pada kemaksiatan. Bila kau memang jatuh cinta pada kami,jangan kau bebankan deritamu pada hati yang akan memuntutmu untuk berbuat nista. Ijinkan kami menjaga hatimu,agar kita bisa menjelang bersama Jannah Nya.Maka datangilah waliku akhi..ku tunggu pinanganmu..

“Wahai jika engkau memiliki cinta

Dan telah terdorong dengan kerinduan

Maka anggaplah jarak perjalanan itu dekat

Karna kecintaan dan kerelaanmu pada penyeru

Ketika mereka menyeru..!!

Maka katakanlah,kami penuhi panggilanmu.

Seribu kali dengan sempurna

Janganlah kau berpaling

Hanya karna melihat gerimis

Jika engkau melihatnya “( Fii Zilalil Mahabbah )”



*adaptasi RKI

Rabu, 22 Juni 2011

KISAH CINTA ALI DAN FATIMAH

Ada rahasia terdalam di hati ‘Ali yang tak dikisahkannya pada siapapun. Fathimah. Karib kecilnya, puteri tersayang dari Sang Nabi yang adalah sepupunya itu, sungguh memesonanya. Kesantunannya, ibadahnya, kecekatan kerjanya, parasnya. Lihatlah gadis itu pada suatu hari ketika ayahnya pulang dengan luka memercik darah dan kepala yang dilumur isi perut unta. Ia bersihkan hati-hati, ia seka dengan penuh cinta. Ia bakar perca, ia tempelkan ke luka untuk menghentikan darah ayahnya.

Semuanya dilakukan dengan mata gerimis dan hati menangis. Muhammad ibn ’Abdullah Sang Tepercaya tak layak diperlakukan demikian oleh kaumnya! Maka gadis cilik itu bangkit. Gagah ia berjalan menuju Ka’bah. Di sana, para pemuka Quraisy yang semula saling tertawa membanggakan tindakannya pada Sang Nabi tiba-tiba dicekam diam. Fathimah menghardik mereka dan seolah waktu berhenti, tak memberi mulut-mulut jalang itu kesempatan untuk menimpali. Mengagumkan!

‘Ali tak tahu apakah rasa itu bisa disebut cinta. Tapi, ia memang tersentak ketika suatu hari mendengar kabar yang mengejutkan. Fathimah dilamar seorang lelaki yang paling akrab dan paling dekat kedudukannya dengan Sang Nabi. Lelaki yang membela Islam dengan harta dan jiwa sejak awal-awal risalah. Lelaki yang iman dan akhlaqnya tak diragukan; Abu Bakr Ash Shiddiq, Radhiyallaahu ’Anhu.

”Allah mengujiku rupanya”, begitu batin ’Ali.

Ia merasa diuji karena merasa apalah ia dibanding Abu Bakr. Kedudukan di sisi Nabi? Abu Bakr lebih utama, mungkin justru karena ia bukan kerabat dekat Nabi seperti ’Ali, namun keimanan dan pembelaannya pada Allah dan RasulNya tak tertandingi. Lihatlah bagaimana Abu Bakr menjadi kawan perjalanan Nabi dalam hijrah sementara ’Ali bertugas menggantikan beliau untuk menanti maut di ranjangnya.

Lihatlah juga bagaimana Abu Bakr berda’wah. Lihatlah berapa banyak tokoh bangsawan dan saudagar Makkah yang masuk Islam karena sentuhan Abu Bakr; ’Utsman, ’Abdurrahman ibn ’Auf, Thalhah, Zubair, Sa’d ibn Abi Waqqash, Mush’ab.. Ini yang tak mungkin dilakukan kanak-kanak kurang pergaulan seperti ’Ali.

Lihatlah berapa banyak budak Muslim yang dibebaskan dan para faqir yang dibela Abu Bakr; Bilal, Khabbab, keluarga Yassir, ’Abdullah ibn Mas’ud.. Dan siapa budak yang dibebaskan ’Ali? Dari sisi finansial, Abu Bakr sang saudagar, insya Allah lebih bisa membahagiakan Fathimah.

’Ali hanya pemuda miskin dari keluarga miskin. ”Inilah persaudaraan dan cinta”, gumam ’Ali.

”Aku mengutamakan Abu Bakr atas diriku, aku mengutamakan kebahagiaan Fathimah atas cintaku.”

Cinta tak pernah meminta untuk menanti. Ia mengambil kesempatan atau mempersilakan. Ia adalah keberanian, atau pengorbanan.

Beberapa waktu berlalu, ternyata Allah menumbuhkan kembali tunas harap di hatinya yang sempat layu.

Lamaran Abu Bakr ditolak. Dan ’Ali terus menjaga semangatnya untuk mempersiapkan diri. Ah, ujian itu rupanya belum berakhir. Setelah Abu Bakr mundur, datanglah melamar Fathimah seorang laki-laki lain yang gagah dan perkasa, seorang lelaki yang sejak masuk Islamnya membuat kaum Muslimin berani tegak mengangkat muka, seorang laki-laki yang membuat syaithan berlari takut dan musuh- musuh Allah bertekuk lutut.

’Umar ibn Al Khaththab. Ya, Al Faruq, sang pemisah kebenaran dan kebathilan itu juga datang melamar Fathimah. ’Umar memang masuk Islam belakangan, sekitar 3 tahun setelah ’Ali dan Abu Bakr. Tapi siapa yang menyangsikan ketulusannya? Siapa yang menyangsikan kecerdasannya untuk mengejar pemahaman? Siapa yang menyangsikan semua pembelaan dahsyat yang hanya ’Umar dan Hamzah yang mampu memberikannya pada kaum muslimin? Dan lebih dari itu, ’Ali mendengar sendiri betapa seringnya Nabi berkata, ”Aku datang bersama Abu Bakr dan ’Umar, aku keluar bersama Abu Bakr dan ’Umar, aku masuk bersama Abu Bakr dan ’Umar..”

Betapa tinggi kedudukannya di sisi Rasul, di sisi ayah Fathimah. Lalu coba bandingkan bagaimana dia berhijrah dan bagaimana ’Umar melakukannya. ’Ali menyusul sang Nabi dengan sembunyi-sembunyi, dalam kejaran musuh yang frustasi karena tak menemukan beliau Shallallaahu ’Alaihi wa Sallam. Maka ia hanya berani berjalan di kelam malam. Selebihnya, di siang hari dia mencari bayang-bayang gundukan bukit pasir. Menanti dan bersembunyi.

’Umar telah berangkat sebelumnya. Ia thawaf tujuh kali, lalu naik ke atas Ka’bah. ”Wahai Quraisy”, katanya. ”Hari ini putera Al Khaththab akan berhijrah. Barangsiapa yang ingin isterinya menjanda, anaknya menjadi yatim, atau ibunya berkabung tanpa henti, silakan hadang ’Umar di balik bukit ini!” ’Umar adalah lelaki pemberani. ’Ali, sekali lagi sadar. Dinilai dari semua segi dalam pandangan orang banyak, dia pemuda yang belum siap menikah. Apalagi menikahi Fathimah binti Rasulillah! Tidak. ’Umar jauh lebih layak. Dan ’Ali ridha.

Cinta tak pernah meminta untuk menanti.

Ia mengambil kesempatan.

Itulah keberanian.

Atau mempersilakan.

Yang ini pengorbanan.

Maka ’Ali bingung ketika kabar itu meruyak. Lamaran ’Umar juga ditolak.

Menantu macam apa kiranya yang dikehendaki Nabi? Yang seperti ’Utsman sang miliarderkah yang telah menikahi Ruqayyah binti Rasulillah? Yang seperti Abul ’Ash ibn Rabi’kah, saudagar Quraisy itu, suami Zainab binti Rasulillah? Ah, dua menantu Rasulullah itu sungguh membuatnya hilang kepercayaan diri.

Di antara Muhajirin hanya ’Abdurrahman ibn ’Auf yang setara dengan mereka. Atau justru Nabi ingin mengambil menantu dari Anshar untuk mengeratkan kekerabatan dengan mereka? Sa’d ibn Mu’adzkah, sang pemimpin Aus yang tampan dan elegan itu? Atau Sa’d ibn ’Ubaidah, pemimpin Khazraj yang lincah penuh semangat itu?

”Mengapa bukan engkau yang mencoba kawan?”, kalimat teman-teman Ansharnya itu membangunkan lamunan. ”Mengapa engkau tak mencoba melamar Fathimah? Aku punya firasat, engkaulah yang ditunggu-tunggu Baginda Nabi.. ”

”Aku?”, tanyanya tak yakin.

”Ya. Engkau wahai saudaraku!”

”Aku hanya pemuda miskin. Apa yang bisa kuandalkan?”

”Kami di belakangmu, kawan! Semoga Allah menolongmu!”

’Ali pun menghadap Sang Nabi. Maka dengan memberanikan diri, disampaikannya keinginannya untuk menikahi Fathimah. Ya, menikahi. Ia tahu, secara ekonomi tak ada yang menjanjikan pada dirinya. Hanya ada satu set baju besi di sana ditambah persediaan tepung kasar untuk makannya. Tapi meminta waktu dua atau tiga tahun untuk bersiap-siap? Itu memalukan! Meminta Fathimah menantikannya di batas waktu hingga ia siap? Itu sangat kekanakan. Usianya telah berkepala dua sekarang.

”Engkau pemuda sejati wahai ’Ali!”, begitu nuraninya mengingatkan. Pemuda yang siap bertanggungjawab atas cintanya. Pemuda yang siap memikul resiko atas pilihan- pilihannya. Pemuda yang yakin bahwa Allah Maha Kaya. Lamarannya berjawab, ”Ahlan wa sahlan!” Kata itu meluncur tenang bersama senyum Sang Nabi.

Dan ia pun bingung. Apa maksudnya? Ucapan selamat datang itu sulit untuk bisa dikatakan sebagai isyarat penerimaan atau penolakan. Ah, mungkin Nabi pun bingung untuk menjawab. Mungkin tidak sekarang. Tapi ia siap ditolak. Itu resiko. Dan kejelasan jauh lebih ringan daripada menanggung beban tanya yang tak kunjung berjawab. Apalagi menyimpannya dalam hati sebagai bahtera tanpa pelabuhan. Ah, itu menyakitkan.

”Bagaimana jawab Nabi kawan? Bagaimana lamaranmu?”

”Entahlah..”

”Apa maksudmu?”

”Menurut kalian apakah ’Ahlan wa Sahlan’ berarti sebuah jawaban!”

”Dasar tolol! Tolol!”, kata mereka,

”Eh, maaf kawan.. Maksud kami satu saja sudah cukup dan kau mendapatkan dua! Ahlan saja sudah berarti ya. Sahlan juga. Dan kau mendapatkan Ahlan wa Sahlan kawan! Dua-duanya berarti ya !”

Dan ’Ali pun menikahi Fathimah. Dengan menggadaikan baju besinya. Dengan rumah yang semula ingin disumbangkan ke kawan-kawannya tapi Nabi berkeras agar ia membayar cicilannya. Itu hutang.

Dengan keberanian untuk mengorbankan cintanya bagi Abu Bakr, ’Umar, dan Fathimah. Dengan keberanian untuk menikah. Sekarang. Bukan janji-janji dan nanti-nanti.

’Ali adalah gentleman sejati. Tidak heran kalau pemuda Arab memiliki yel, “Laa fatan illa ‘Aliyyan! Tak ada pemuda kecuali Ali!” Inilah jalan cinta para pejuang. Jalan yang mempertemukan cinta dan semua perasaan dengan tanggung jawab. Dan di sini, cinta tak pernah meminta untuk menanti. Seperti ’Ali. Ia mempersilakan. Atau mengambil kesempatan. Yang pertama adalah pengorbanan. Yang kedua adalah keberanian.

Dan ternyata tak kurang juga yang dilakukan oleh Putri Sang Nabi, dalam suatu riwayat dikisahkan bahwa suatu hari (setelah mereka menikah) Fathimah berkata kepada ‘Ali, “Maafkan aku, karena sebelum menikah denganmu. Aku pernah satu kali jatuh cinta pada seorang pemuda ”

‘Ali terkejut dan berkata, “kalau begitu mengapa engkau mau manikah denganku? dan Siapakah pemuda itu?”

Sambil tersenyum Fathimah berkata, “Ya, karena pemuda itu adalah Dirimu”

Kemudian Nabi saw bersabda: “Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla memerintahkan aku untuk menikahkan Fatimah puteri Khadijah dengan Ali bin Abi Thalib, maka saksikanlah sesungguhnya aku telah menikahkannya dengan maskawin empat ratus Fidhdhah (dalam nilai perak), dan Ali ridha (menerima) mahar tersebut.”

Kemudian Rasulullah saw. mendoakan keduanya:

“Semoga Allah mengumpulkan kesempurnaan kalian berdua, membahagiakan kesungguhan kalian berdua, memberkahi kalian berdua, dan mengeluarkan dari kalian berdua kebajikan yang banyak.” (kitab Ar-Riyadh An-Nadhrah 2:183, bab4)

Jumat, 20 Mei 2011

Tetap Disini Bersamamu,..

entah,.
berat rasanya hati ini berucap,.
apalagi untuk mengurungkan sebuah niat dan mimpi terbesar dalam hidup,
seperti yang tak mungkin, akan kubungkus untuk menjadi mungkin,
seperti angin puyuh yang siap menerpa segala yang ada di sekelilingnya..
ya..
itulah hatiku kini,.

yang mana yang ingin aku lepaskan,
sama hal beratnya,
tiada yang ringan dalam timbangan gelora asa yang menyelimuti segala rasa selama ini,..

namun,
aku ingin bersamamu,.
menjadi sahabat terindahmu di hari tuamu,.
menikmati senyum yang telah tergores kerut,
memelukmu dalam bahagia,
ataupun menjadi penghibur atas segala laramu,.

aku masih ingin menikmati manisnya gula di secangkir teh yang kau hidangkan untukku,
aku masih ingin menikmati sepiring telur yang kau olah untuk mengganjal perutku yang kosong,.
aku masih ingin dengar segala petuah yang kau ajarkan untukku,.
meski tak berucap,
namun aku fahim isyarat tubuhmu yang menggambarkan banyak pelajaran hidup untukku..

aku ingin bersenandung bersamamu di hari tuamu,
aku ingin menikmati suara perjuangan tadarusmu menghiasi telingaku,
aku ingin menghabiskan usiaku bersamamu,.
disampingmu,,..
hingga..
hingga ajal memisahkan kita..
dan..
Alloh mengumpulkankita kembali di jannah-Nya..

maka,.
Tuhan,
biarkan mimpi terindahku selama ini,
hidup abadi di dalam relung hatiku terdalam,.
biar saja aku yang akan tetap memiliki hingga kapanpun diri ini masih bernyawa..
atau bahkan,.
hingga hilang nyawa ini..

biarpun jiwa tak menyanggupi sampai,.
tapi aku yakin,
bersama mimpi terbesarku dan tekad yang meraja..
aku seolah telah mewujudkannya,.
jauh di dasar hatiku,.

dibalik mimpiku yang besar,.
ada yang lebih terindah ingin ku gapai semua itu,.
,.
aku ingin merajut warna indah pelangi bersama kalian,.
melukiskan senyum di kanvas wajah kalian..
dan menjadi perisai kehidupan bagi kalian,.
hingga di akhirat kelak,.
sampai Alloh akan memasangkan sendiri mahkota cahaya yang indah itu di atas kepala kalian..
dan ketika kalian bertanya pada Alloh..apakah itu..
maka
aku akan menjawab,.

" ini adalah persembahan terindah untuk kalian "


Amiiinnnn yaa Rabb....



-iloveyoumamailoveyoupapa-

Minggu, 07 Maret 2010

Apa artinya cinta,.

ketika jemari mulai menuliskan bait demi bait kata-kata yang terangkum manis dalam sebuah kalimat,.
maka..
ketika itu pula aku semakin tak mengerti apa artinya cinta,.

sampai hari ini,.
aku belum mampu memaknai arti cinta,.
cinta yang sering dibanggakan orang-orang,.
cinta yang sering diceritakan mereka semua,.

termasuk hati ku saat ini,.
sendu dan pilu ketika mengingat dirinya,.
mengingat tentang dia ataukah tentang siapapun yang pernah mewarnai hati ini,.

bersamamu terasa sangat indah,.
menangis dan tertawa di sisimu,.seakan berkurang beban di pundak ini,.
berada di samping bahumu,.
seakan tak ada lagi duka yang menghantui diri ini,.

aku ingin menggenggammu,.
namun seberapa mampu aku dapat memberikan cinta di hatimu,.
dan,.
seberapa mampu juga aku dapat mengenal dan memahami cinta,.

kini..
aku mencoba berlari dari segala jenis cinta yang pernah datang menghampiriku,.
aku mulai mencoba bertanya pada diriku,.
cinta seperti apa yang sungguh aku butuhkan untuk hatiku,.
cinta yang sungguh menjadikan jiwa dan batin ini bahagia sepenuhnya,.

tuhan,.
ajari aku mencintai dia atau siapapun dirinya
dengan segenap cinta dan rasa yang sungguh membahagiakannya,.
jadikan tangan ini lembut menyapanya,.
jadikan rasa ini mengalun halus menyelimuti hatinya,.

ajari aku mencintainya selembut aku mencintai dakwah di dada ini..
ajari aku mencintainya selayaknya cinta tulus ku pada ayah dan bundaku,.

aku mencintai mereka,.
mereka yang pernah mengalun lembut mengisi hidupku,.
menyusup manis di setiap gerik langkahku,.
mereka yang telah menciptakan denting lembut nada yang mengalun merdu,.
aku mencintai mereka,.
mereka yang juga sungguh mencintai diriku seutuhnya dan sepenuhnya,.
mereka yang sungguh mampu menjaga diri dan kehormatanku layaknya mawar cantik yang berdiri tegak,.

biarkan aku mencintaimu,.
biarkan aku mampu bahagiakan hatimu,.
biarkan aku mengiringi langkahmu,.
biarkan aku mengantarmu jumpa dengan Rabb-mu dengan kelembutan cintaku,.

biarkan aku mengerti ..
hingga aku mampu memahami,.
APA ARTINYA CINTA,.

Rabu, 17 Februari 2010

aku masih mencintaimu,.

inikah akhir dari semua yang ku pertahankan dengan segala yang kukorbankan dan kuberikan demi dan untuk dirinya???

inikah semua akhirnya???
hanyalah dengan sebuah akhir yang seperti ini???

ingin menangis rasanya dengan semua akhir ini,.
namun sungguh aku tak bisa menangiss,.
tak bisa sedikitpun air mata ini keluar,.

entah karena sudah terlalu lelah,.
ataukah sudah terlalu kuat aku hadapi semua rasa ini,.

rasanya aku seperti sudah terbiasa dengan masalah ini dengannya,
sehingga menjadikan aku lebih kuat dari sebelumnya untuk menghadapinya,.

jujur,.
betapa aku merindukannya malam ini,.
merindukan sekedar kabarnya,.
merindukan senyumnya walau dalam layar,.

aku memang mencintainya,.
namun sungguh tidak dalam keadaan yang begini aku mencintainya,.

entah,.

setelah semua kejadian itu,.memang hubungan kita kembali baik,..
namun tidak banyak menghasilkan kebaikan,.
bukan lagi hubungan yang menyenangkan dan penuh berkah seperti ketika kita awal saling mengenal,.

"akupun ingin mencintai dan dicintai dengan sebenar-benarnya cinta,.dengan setulus dan sejujur-jujurnya cinta,."

aku ingin mengorbankan seluruh hati ini hanya untuk dya yang sungguh mencintaiku,.

mencintai dengan seluruh raga dan hatinya,.seluruh iman dan ketakwaaannya,.

aku tak ingin suatu saat dya menjadi seperti kisah seorang dosen yang sahabat ceritakan padaku,.
seseorang pria yang lari dari kekurangan seorang istrinya,.
mencari sesuatu sanggahan hati atas rasa kesepiaannya,.

aku ingin dya mencintaiku seperti aku mencintai dirinya,.

menjaga seluruh diriku untuknya,.
menjaga komunikasi dan izin atas dirinya,.
tidak sedikitpun terlintas bayang yang lain ketika sudah ada bersamanya,.
senantiasa bersyukur dengan keadaan pasangannya meski dalam kondisi secacat apapun dirinya,.


tuhan,.
yakinkan aku jika hari ini aku harus kehilangan dirinya untuk selamanya,.
yakinkan bahwa ada yang terbaik setelah ini,.meski aku tak memungkiri,.aku begitu mencintai dan menyayangi dirinya,.aku begitu iingin dya kembali dalam hatiku, bahkan bukan dirinya saja,.namun seluruh keluarganya,.aku mencintainya,.
namun tidak begini keadaannya,.
aku ingin mencintai dan dicintai olehmu atau oleh siapapun dengan kondisi dan keadaan yang lebih baik,.

aku yang mencintaimu,.
kemarin, hari ini, esok, lusa, dan hingga nanti aku dipinang oleh seorang pria,.

hatiku,
Maryana Indah Lestari

Sabtu, 26 Desember 2009

aku ingin mencintaimu, DUHAI CINTA,.


Ya Allah,..’

Aku ingin menjadi denyut jantung yang berdetak merdu di tubuhnya,..

Aku ingin menjadi nafas baru yang berhembus di dirinya,..

Aku ingin menjadi senyum yang dapat menjadi kekuatan baru di jiwanya,..

Aku ingin menjadi air mata di samping dukanya,..

Aku ingin menjadi tangan kanan yang dapat menghela letihnya,..

Aku ingin memilikimu bukan karna kelebihan-kelebihanmu,..

Namun,..

Aku ingin memilikimu karna ingin melengkapi kekuranganmu menjadi sebuah kelebihan

Aku ingin mencintaimu, duhai cinta,..

Aku ingin bersanding menemani indah harimu,..atau mengusap luka di harimu,..

Aku ingin memenuhi sgala yang kau butuhkan

Aku ingin mewujudkan sgala mimpimu,..

Aku ingin melukis masa depan bersamamu,..

Aku ingin menangis di pelukmu,..dan tersenyum bersama kekuatanmu,..

Aku mencintaimu, duhai cinta,..

Kamis, 26 November 2009

SURAT CINTA UNTUK CALON SUAMIKU


Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Kepadamu, calon suamiku...

Apa kabarnya iman-mu hari ini? Sudahkah hari-mu diawali dengan syukur karena dapat menatap kembali fana-nya hidup ini? Sudahkah air wudhu menyegarkan kembali ingatanmu atas amanah yang saat ini tengah berada di pundakmu?


Wahai Calon suamiku...

Tahukah engkau betapa Allah SWT menyayangiku dengan amat sempurnanya? Disini, di istana penantian ini aku ditempa untuk menjadi dewasa dan siap mendampingimu kelak. Meski terkadang tempaan itu tidak kusyukuri, namun aku merasa menjadi lebih baik saat ini. Hatiku yang rapuh berkali-kali diuji agar menjadi tangguh. Sehingga kelak saat kita bertemu, kau akan bangga telah memiliki aku di hatimu.

Entah dimana dirimu sekarang. Tapi aku yakin, Allah pun juga amat mencintaimu, dan kini tengah melatihmu menjadi mujahid yang tangguh, hingga akupun bangga memilikimu kelak.

Sebuah kisah pernah kudengar:

"aku meminta pada Allah setangkai bunga yang indah. Dia memberi aku kaktus berduri. AKu minta pada Allah hewan mungil nan cantik. Dia beri aku ulat berbulu. Aku sempat kecewa, dan protes. Betapa tidak adilnya ini. Namun kemudian kaktus itu berbunga sangat indah sekali, dan ulatpun tumbuh dan berubah menjadi kupu-kupu yang teramat cantik. Itulah jalan Allah, Indah pada waktunya. Allah tidak memberi apa yang kita inginkan, tapi Allah memberi apa yang kita butuhkan."

Aku yakin, kaulah yang aku butuhkan untuk mendampingiku kelak, meski bukan seperti apa yang kuharapkan. Karena apa yang baik menurutku belum tentu baik disisi Allah, demikian pula sebaliknya, apa yang buruk menurutku belum tentu buruk disisi Allah. Bukankah seperti itu yang tertulis di dalam kitab Al-Quran?


Calon suamiku...

Aku ini pencemburu berat. TApi kalau Allah dan RAsulullah lebih kau cintai daripada aku, Insya Allah aku rela. Aku harap begitu pula dengan dirimu. Karena cemburunya seorang suami adalah bukti bahwa engkau begitu inginya melindungiku, menjaga kehormatanku.

Saat aku masih dalam asuhan ayah dan bunda, tidak lain doaku adalah ingin menjadi anak yang solehah, agar kelak di akhirat dapat menjadi bekal tabungan kedua orangtuaku. Namun nanti setelah menjadi isterimu, doaku bertambah, Semoga Allah menjadikanku pendamping (baca: Isteri) yang solehah, agar kelak di syurga kita dipertemukan dan cukup aku yang menjadi bidadarimu, mendampingi dirimu yang soleh.

Apa yang kuharapkan darimu adalah kesolehan, semoga sama halnya dengan dirimu. Karena apabila kecantikan yang kau harapkan dariku, hanya kesia-siaan yang kan kau dapati.

Wahai calon suamiku yang di rahmati Allah...

Aku masih haus akan ilmu. Namun berbekal ilmu yang kumiliki saat ini, aku berharap dapat menjadi isteri yang senantiasa mendapat keridhaan Allah dan dirimu.

ketika kelak telah lahir generasi penerus dakwah Islam dari pernikahan kita, bantu aku untuk bersama mendidik dan membesarkannya dengan harta yang halal, ilmu yang bermanfaat, dan terutama dengan menanamkan pada diri mereka ketaatan kepada Allah SWT.

Apabila suatu hari nanti hanya ada sebuah gubuk menjadi perahu pernikahan kita, Tak akan aku namai dengan "gubuk derita". Karena itulah markas dakwah kita, tempat kita nantinya mengatur strategi, mendidik mujahid/mujahidah kecil kita untuk menjadi tangguh.

Calon suamiku yang kurindukan...

Coretan ini hanyalah sebagian kecil dari isi hatiku. Kelak saat kita bertemu, siapkanlah dirimu untuk mendengar konsep masa depan yang ingin kurajut bersamamu. Pertemuan denganmu kelak adalah kejutan besar yang tengah Allah persiapkan untuk kita.

*dePita

Sabtu, 21 November 2009

MENCINTAI SEJANTAN ALI

Kisah ini diambil dari buku Jalan Cinta Para Pejuang, Salim A.Fillah

chapter aslinya berjudul “Mencintai sejantan ‘Ali”

Ada rahasia terdalam di hati ‘Ali yang tak dikisahkannya pada siapapun. Fathimah.
Karib kecilnya, puteri tersayang dari Sang Nabi yang adalah sepupunya itu, sungguh memesonanya.
Kesantunannya, ibadahnya, kecekatan kerjanya, parasnya.

Lihatlah gadis itu pada suatu hari ketika ayahnya pulang dengan luka memercik darah dan kepala yang dilumur isi perut unta.Ia bersihkan hati-hati, ia seka dengan penuh cinta. Ia bakar perca, ia tempelkan ke luka untuk menghentikan darah ayahnya. Semuanya dilakukan dengan mata gerimis dan hati menangis. Muhammad ibn ’Abdullah Sang Tepercaya tak layak diperlakukan demikian oleh kaumnya!
Maka gadis cilik itu bangkit. Gagah ia berjalan menuju Ka’bah.Di sana, para pemuka Quraisy yang semula saling tertawa membanggakan tindakannya pada Sang Nabi tiba-tiba dicekam diam.
Fathimah menghardik mereka dan seolah waktu berhenti, tak memberi mulut-mulut jalang itu kesempatan untuk menimpali.

Mengagumkan! ‘Ali tak tahu apakah rasa itu bisa disebut cinta.

Tapi, ia memang tersentak ketika suatu hari mendengar kabar yang mengejutkan.Fathimah dilamar seorang lelaki yang paling akrab dan paling dekat kedudukannya dengan Sang Nabi. Lelaki yang membela Islam dengan harta dan jiwa sejak awal-awal risalah. Lelaki yang iman dan akhlaqnya tak diragukan; Abu Bakr Ash Shiddiq, Radhiyallaahu ’Anhu.

”Allah mengujiku rupanya”, begitu batin ’Ali. Ia merasa diuji karena merasa apalah ia dibanding Abu Bakr.
Kedudukan di sisi Nabi? Abu Bakr lebih utama, mungkin justru karena ia bukan kerabat dekat Nabi seperti ’Ali, namun keimanan dan pembelaannya pada Allah dan RasulNya tak tertandingi. Lihatlah bagaimana Abu Bakr menjadi kawan perjalanan Nabi dalam hijrah sementara ’Ali bertugas menggantikan beliau untuk menanti maut di ranjangnya.. Lihatlah juga bagaimana Abu Bakr berda’wah.
Lihatlah berapa banyak tokoh bangsawan dan saudagar Makkah yang masuk Islam karena sentuhan Abu Bakr; ’Utsman, ’Abdurrahman ibn ’Auf, Thalhah, Zubair, Sa’d ibn Abi Waqqash, Mush’ab..
Ini yang tak mungkin dilakukan kanak-kanak kurang pergaulan seperti ’Ali.
Lihatlah berapa banyak budak muslim yang dibebaskan dan para faqir yang dibela Abu Bakr; Bilal, Khabbab, keluarga Yassir, ’Abdullah ibn Mas’ud.. Dan siapa budak yang dibebaskan ’Ali?
Dari sisi finansial, Abu Bakr sang saudagar, insyaallah lebih bisa membahagiakan Fathimah. ’Ali hanya pemuda miskin dari keluarga miskin.

”Inilah persaudaraan dan cinta”, gumam ’Ali.
”Aku mengutamakan Abu Bakr atas diriku, aku mengutamakan kebahagiaan Fathimah atas cintaku.”

Cinta tak pernah meminta untuk menanti.
Ia mengambil kesempatan atau mempersilakan.
Ia adalah keberanian, atau pengorbanan.

Beberapa waktu berlalu, ternyata Allah menumbuhkan kembali tunas harap di hatinya yang sempat layu.
Lamaran Abu Bakr ditolak. Dan ’Ali terus menjaga semangatnya untuk mempersiapkan diri.
Ah, ujian itu rupanya belum berakhir. Setelah Abu Bakr mundur, datanglah melamar Fathimah seorang laki-laki lain yang gagah dan perkasa, seorang lelaki yang sejak masuk Islamnya membuat kaum muslimin berani tegak mengangkat muka, seorang laki-laki yang membuat syaithan berlari takut dan musuh-musuh Allah bertekuk lutut. ’Umar ibn Al Khaththab. Ya, Al Faruq, sang pemisah kebenaran dan kebathilan itu juga datang melamar Fathimah. ’Umar memang masuk Islam belakangan, sekitar 3 tahun setelah ’Ali dan Abu Bakr.
Tapi siapa yang menyangsikan ketulusannya? Siapa yang menyangsikan kecerdasannya untuk mengejar pemahaman? Siapa yang menyangsikan semua pembelaan dahsyat yang hanya ’Umar dan Hamzah yang mampu memberikannya pada kaum muslimin? Dan lebih dari itu,

’Ali mendengar sendiri betapa seringnya Nabi berkata, ”Aku datang bersama Abu Bakr dan ’Umar, aku keluar bersama Abu Bakr dan ’Umar, aku masuk bersama Abu Bakr dan ’Umar..”
Betapa tinggi kedudukannya di sisi Rasul, di sisi ayah Fathimah.

Lalu coba bandingkan bagaimana dia berhijrah dan bagaimana ’Umar melakukannya. ’Ali menyusul sang Nabi dengan sembunyi-sembunyi, dalam kejaran musuh yang frustasi karena tak menemukan beliau Shallallaahu ’Alaihi wa Sallam. Maka ia hanya berani berjalan di kelam malam. Selebihnya, di siang hari dia mencari bayang-bayang gundukan bukit pasir. Menanti dan bersembunyi.

’Umar telah berangkat sebelumnya. Ia thawaf tujuh kali, lalu naik ke atas Ka’bah.
”Wahai Quraisy”, katanya. ”Hari ini putera Al Khaththab akan berhijrah.
Barangsiapa yang ingin isterinya menjanda, anaknya menjadi yatim, atau ibunya berkabung tanpa henti, silakan hadang ’Umar di balik bukit ini!” ’Umar adalah lelaki pemberani. ’Ali, sekali lagi sadar.
Dinilai dari semua segi dalam pandangan orang banyak, dia pemuda yang belum siap menikah.
Apalagi menikahi Fathimah binti Rasulillah! Tidak.’Umar jauh lebih layak. Dan ’Ali ridha.

Cinta tak pernah meminta untuk menanti.
Ia mengambil kesempatan.
Itulah keberanian.
Atau mempersilakan.
Yang ini pengorbanan.

Maka ’Ali bingung ketika kabar itu meruyak. Lamaran ’Umar juga ditolak. Menantu macam apa kiranya yang dikehendaki Nabi? Yang seperti ’Utsman sang miliarder kah yang telah menikahi Ruqayyah binti Rasulillah? Yang seperti Abul ’Ash ibn Rabi’ kah, saudagar Quraisy itu, suami Zainab binti Rasulillah?
Ah, dua menantu Rasulullah itu sungguh membuatnya hilang kepercayaan diri. Di antara Muhajirin hanya ’Abdurrahman ibn ’Auf yang setara dengan mereka. Atau justru Nabi ingin mengambil menantu dari Anshar untuk mengeratkan kekerabatan dengan mereka? Sa’d ibn Mu’adz kah, sang pemimpin Aus yang tampan dan elegan itu? Atau Sa’d ibn ’Ubadah, pemimpin Khazraj yang lincah penuh semangat itu?

”Mengapa bukan engkau yang mencoba kawan?”, kalimat teman-teman Ansharnya itu membangunkan lamunan. ”Mengapa engkau tak mencoba melamar Fathimah? Aku punya firasat, engkaulah yang ditunggu-tunggu Baginda Nabi..” ”Aku?”, tanyanya tak yakin. ”Ya. Engkau wahai saudaraku!”
”Aku hanya pemuda miskin. Apa yang bisa kuandalkan?” ”Kami di belakangmu, kawan! Semoga Allah menolongmu!”

’Ali pun menghadap Sang Nabi.
Maka dengan memberanikan diri, disampaikannya keinginannya untuk menikahi Fathimah.
Ya, menikahi.Ia tahu, secara ekonomi tak ada yang menjanjikan pada dirinya.
Hanya ada satu set baju besi di sana ditambah persediaan tepung kasar untuk makannya.
Tapi meminta waktu dua atau tiga tahun untuk bersiap-siap?
Itu memalukan! Meminta Fathimah menantikannya di batas waktu hingga ia siap? Itu sangat kekanakan. Usianya telah berkepala dua sekarang. ”Engkau pemuda sejati wahai ’Ali!”, begitu nuraninya mengingatkan.Pemuda yang siap bertanggungjawab atas rasa cintanya. Pemuda yang siap memikul resiko atas pilihan-pilihannya. Pemuda yang yakin bahwa Allah Maha Kaya.

Lamarannya berjawab, ”Ahlan wa sahlan!” Kata itu meluncur tenang bersama senyum Sang Nabi.
Dan ia pun bingung. Apa maksudnya? Ucapan selamat datang itu sulit untuk bisa dikatakan sebagai isyarat penerimaan atau penolakan. Ah, mungkin Nabi pun bingung untuk menjawab. Mungkin tidak sekarang. Tapi ia siap ditolak. Itu resiko. Dan kejelasan jauh lebih ringan daripada menanggung beban tanya yang tak kunjung berjawab. Apalagi menyimpannya dalam hati sebagai bahtera tanpa pelabuhan.
Ah, itu menyakitkan. ”Bagaimana jawab Nabi kawan? Bagaimana lamaranmu?”
”Entahlah..” ”Apa maksudmu?” ”Menurut kalian apakah ’Ahlan wa Sahlan’ berarti sebuah jawaban!”
”Dasar tolol! Tolol!”, kata mereka, ”Eh, maaf kawan.. Maksud kami satu saja sudah cukup dan kau mendapatkan dua! Ahlan saja sudah berarti ya. Sahlan juga. Dan kau mendapatkan Ahlan wa Sahlan kawan! Dua-duanya berarti ya!”

Dan ’Ali pun menikahi Fathimah. Dengan menggadaikan baju besinya.
Dengan rumah yang semula ingin disumbangkan kawan-kawannya tapi Nabi berkeras agar ia membayar cicilannya. Itu hutang.

Dengan keberanian untuk mengorbankan cintanya bagi Abu Bakr, ’Umar, dan Fathimah.
Dengan keberanian untuk menikah.
Sekarang. Bukan janji-janji dan nanti-nanti.’Ali adalah gentleman sejati.Tidak heran kalau pemuda Arab memiliki yel, “Laa fatan illa ‘Aliyyan! Tak ada pemuda kecuali Ali!”

Inilah jalan cinta para pejuang.
Jalan yang mempertemukan cinta dan semua perasaan dengan tanggungjawab.
Dan di sini, cinta tak pernah meminta untuk menanti.
Seperti ’Ali. Ia mempersilakan. Atau mengambil kesempatan. Yang pertama adalah pengorbanan.
Yang kedua adalah keberanian.

Dan ternyata tak kurang juga yang dilakukan oleh Putri Sang Nabi, dalam suatu riwayat dikisahkan bahwa suatu hari (setelah mereka menikah) Fathimah berkata kepada ‘Ali,

“Maafkan aku, karena sebelum menikah denganmu. Aku pernah satu kali merasakan jatuh cinta pada seorang pemuda”

‘Ali terkejut dan berkata, “kalau begitu mengapa engkau mau manikah denganku? dan Siapakah pemuda itu”

Sambil tersenyum Fathimah berkata, “Ya, karena pemuda itu adalah Dirimu”

Kisah ini disampaikan disini, bukan untuk membuat kita menjadi mendayu-dayu atau romantis-romantis- an. Kisah ini disampaikan agar kita bisa belajar lebih jauh dari ‘Ali dan Fathimah bahwa ternyata keduanya telah memiliki perasaan yang sama semenjak mereka belum menikah tetapi dengan rapat keduanya menjaga perasaan itu

Perasaan yang insyaAllah akan indah ketika waktunya tiba.

cinta berkualitas


betapa indah sekali terdengar sebuah kata yang memiliki makna banyak dan luas itu,.
sampai rasanya hati tak mampu menampungnya hingga di dasar jiwa,..
ketika dengar kata itu,..seolah banyak kebahagiaan yang tersirat di dalamnya,..
meski bukan hanya kebahagiaan yang menyelimuti dan mewarnai sebuah "CINTA" pada kenyataannya,..
namun,..seharusnya,..cinta memang harus membuat kita bahagia bergulir dengannya,..
jangan sampai, cinta hanya membuat makna baru yang tidak enak terdengar di telinga d dan terasa di hati,..
sehingga seharusnya pula,..cinta dapat membawa kenikmatan yang hakiki untuk hidup dan mati kita,.
mari kita lihat bersama sebuah cinta yang penuh dengan kenikmatan,..yaitu cintanya seorang Abdullah Bin Jahsy yang ketika di tengah peperangannya melawan musuh Allah,.dengan penuh pengharapan cinta dari Allah,.beliau minta untuk dapat mati dalam keadaan dapat membunuh musuh Allah yang tangguh,kemudian setelah itu ingin kondisi tubuhnya terpotong-potong sebagai persembahan cintanya pada Allah,.dan Allah pun tak menolak cintanya,.Allah mengabulkan sgala doa dan pengharapannya,..
begitu juga dengan kisah Ali yang begitu jantan mencintai fatimah,..hingga Rasulullah memberikannya untuk seorang Ali,..

kalau kita amati,..ternyata kenikmatan mencintai itu seharusnya banyak berbuah kebahagiaan, bukan sebaliknya,..

ketika cinta tidak lagi membuahkan kebahagiaan, berarti cinta kita perlu dievaluasi kembali kualitasnya,..

atau,.cinta yang tidak membuahkan kebahagiaan adalah sebuah cinta yang kurang tepat,..sehingga membuat Allah cemburu dan membalikkan makna kebahagiaan akan sebuah cinta,..

cinta,..cinta,..dan cinta,..
semoga cinta kita adalah sebuah cinta yang berkualitas,.
sehingga akan membuahkan kenikmatan dan juga kebahagiaan hakiki untuk hidup dan mati kita,..